oleh

Besok, Tokoh Minut Gelar Seminar Budaya Tonsea 

METRO, Airmadidi – Seiring dengan perkembangan tekhnologi yang sudah sangat pesat masuk kedalam sendi-sendi kehidupan masyarakat saat ini, perlahan namun pasti budaya Tonsea mulai tergerus dimakan jaman. Hal ini memicu segelintir tokoh penggiat budaya di Minahasa Utara untuk mengangkat budaya Tonsea melalui seminar.
Kali ini seminar bertajuk “Memahami dan menghidupi budaya Tonsea” akan digelar di Hotel Sutan Raja Kalawat Minahasa Utara, Rabu 7 Agustus 2019. Ide yang didasari generasi milenial mulai melupakan budaya Tana’ Tonsea ini digagas Maximillian Pinontoan, William S Luntungan dan Lidya F Katuuk.
Menurut mereka tujuan pelaksanaan seminar ini murni untuk melestarikan budaya Tonsea agar bisa dimasukkan dalam kurikulum di sekolah se-Minahasa Utara agar terhindar dari kepunahan. “Tidak bisa dipungkiri saat ini hanya beberapa desa yang masih rutin menggunakan bahasa Tonsea dalam kehidupan sehari-hari. Dari 131 Desa/Kelurahan di Minut hanya sekitar 10an Desa yang masih rutin menggunakan bahasa  Tonseasebagai bahasa sehari-hari,” tutur Luntungan.
Ide cemerlang ini mendapat apresiasi positif warga Minut. Bahkan dua tokoh Muda Carry Mumbunan dan Joune Ganda yang saat ini lagi hangat dibicarakan memberi apresiasi tinggi terhadap rencana ini.
Keduanya berharap agar pemerintah dapat memasukkan penerapan bahasa Tonsea dalam kurikulum tahun depan agar budaya Tonsea tidak menjadi tamu di rumahnya sendiri. Keduanya berharap agar Pemkab, Dekab dan tokoh-tokoh budaya di Minut dapat mendukung kegiatan ini agar budaya Tonsea tetap lestari dan dicintai oleh warga Tonsea.
“Tidak ada muatan politik dalam kegiatan ini. Seminar ini adalah langkah awal dan kami akan melakukan kegiatan-kegiatan selanjutnya yang tentunya berkaitan dengan budaya Tonsea. Seminar budaya berbahasa Tonsea ini pertama dilakukan di Indonesia dimana seminar akan dilaksanakan dengan teknik yang tidak biasanya dengan pembicara-pembicara yang menguasai bidangnya. Semua itu bertujuan untuk lebih mengaktifkan,menggali dan mengembangkan bahasa dan budaya Tonsea itu sendiri supaya tetap lestari,” papar Luntungan.(RAR)