Pelajar Tak Boleh Bawa Motor ke Sekolah!

METRO, Bitung- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkot Bitung mengeluarkan larangan membawa motor ke sekolah. Larangan itu ditujukan ke pelajar yang notabene memang belum memiliki Surat Izin Mengemudi atau SIM.

“Kami sampaikan melalui surat ke semua sekolah. Ini bersifat wajib sehingga harus dipatuhi,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkot Bitung, Julius Ondang, Kamis (03/06) kemarin.

Julius mengakui larangan itu muncul setelah merespon insiden lakalantas yang menewaskan empat pelajar di Kecamatan Ranowulu. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (01/06) lalu memang cukup menyesakkan dada. Empat pelajar yang berboncengan di satu sepeda motor tewas mengenaskan usai terlibat tabrakan dengan mobil tronton.

Walikota Bitung Maurits Mantiri bahkan ikut prihatin dengan kejadian itu. Saking prihatinnya, ia langsung menegaskan akan berupaya mencegah agar kejadian semacam itu tak terulang lagi. Nah, penegasan ini kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Sekretaris Daerah Bitung Nomor: 008/376/SEK, yang belakangan juga ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Julius mengakui ada tantangan dalam mewujudkan larangan di atas. Namun begitu kata dia, hal itu tidak menyurutkan upayanya dalam mencegah kemungkinan terburuk. Ia mengaku sudah memikirkan beberapa cara untuk menyikapi hal dimaksud.

“Tentu pengawasan harus jalan, itu kuncinya. Makanya kami akan bekerjasama dengan polisi maupun jaksa untuk hal ini. Kami juga akan minta dukungan dari Dinas Perhubungan dan Satpol-PP untuk memperkuat pengawasan. Dan kalau ada yang melanggar, sanksi pasti akan diberikan,” tuturnya.

Di luar pihak-pihak yang sudah disebut di atas, Julius pun meminta keseriusan dari pihak sekolah maupun orangtua murid. Khusus orangtua, ia menyebut mereka sebagai pihak pertama yang bertanggungjawab.

“Orangtua harus sadar. Yang namanya pelajar, sebagian besar atau bahkan semua, pasti belum memiliki SIM. Jadi kalau sudah tahu seperti itu jangan izinkan anak-anak bawa motor. Bukan cuma ke sekolah, di luar sekolah pun harus begitu. Kalau sayang terhadap anak hal ini harus diperhatikan,” pintanya.

Salah satu warga yang punya anak usia sekolah, Hasyim Melangi, mendukung penuh pelarangan tersebut. Ia menganggap kebijakan itu sangat tepat dan patut dijalankan.

“Tapi jangan panas-panas tahi ayam. Cuma disiplin di awal tapi setelah itu kembali seperti biasa,” katanya.

Hasyim sendiri tak mengizinkan anaknya pergi sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Sekalipun ada kesibukan, dia mengaku selalu menyempatkan diri untuk mengantar maupun menjemput anak-anaknya. Karena itu, dia menganggap situasi serupa harusnya bisa dilakoni orangtua yang lain.(69)

Komentar