METRO, Manado – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dibawah kepemimpinan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw (OD-SK) mendukung upaya pelestarian bahasa daerah yang makin terpinggirkan.
Kadis Kebudayaan Provinsi Sulut, Jani Lukas, dalam sambutan mewakili Gubernur saat menghadiri Rapat Koordinasi Antarinstansi Dalam Rangka Revitalisasi Bahasa Daerah, Hotel Luwansa Manado, Rabu (13/3/2024) menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang digagas Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara. Menurutnya ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan dan pelestarian bahasa daerah di Sulut.
Kadis mengungkapkan, berdasarkan hasil pemetaan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah dan untuk Sulawesi Utara memiliki 10 bahasa daerah.
“Kita harus sama-sama mempertahankan bahasa daerah, jangan sampai 10 bahasa itu punah karena ketidakpedulian kita,” ungkap Lukas.
Lanjutnya, untuk mencegah kepunahan bahasa daerah, Kemendikbudristek telah meluncurkan program merdeka belajar episode 17, sebagai pendekatan baru untuk merevitalisasi bahasa daerah di Indonesia. Dalam mendukung program tersebut diperlukan kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan semua elemen masyarakat.
“Dengan strategi tersebut kita menunjukkan kepada masyarakat mengenai kepedulian terhadap bahasa daerah tentang pentingnya revitalisasi bahasa daerah di sulawesi utara,” ungkap Kadis.
Lukas menjelaskan, kita tidak bisa menutup mata kenyataan bahwa bahasa daerah semakin terpinggirkan dan meredup di tenga arus globalisasi. Pemprov Sulut tentunya memiliki tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa kekayaan bahasa ini tidak hanya bertahan tetapi berkembang menjadi pilar kekuatan bagi masyarakat.
“Saya melihat merdeka belajar episode 17 adalah langkah nyata untuk memastikan bahwa identitas lokal kita tetap kuat sehingga kita tidak kehilangan jati diri dalam dinamika perubahan zaman karena adanya pelibatan berbagai ekosistem yang ada di Sulut,” ungkapnya.
Ditambahkannya, Kemendikbudristek akan melibatkan secara intensif keluarga, para maestro, dan pegiat pelindungan bahasa dan sastra dalam penyusunan model pembelajaran bahasa daerah, pengayaan materi bahasa daerah dalam kurikulum, dan perumusan muatan lokal kebahasaan dan kesastraan.(Egy)






