METRO, Manado- Dua ton tanaman stevia asal Sulawesi Utara diekspor perdana ke Korea Selatan (Korsel). Ekspor perdana ini dilakukan oleh PT Bejana Kasih Sempurna (BKS), di area perkebunan Minahasa, pada Selasa (28/9).
Sebelum diekspor, tanaman yang menjadi bahan pemanis pengganti gula tebu ini dibudidayakan di Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
“Penyiapan lahan dan penanaman bibit sudah dilakukan dari tahun lalu dan terus dikembangkan sampai sepuluh tahun ke depan. Selanjutnya pihak Stevia Farm berencana akan mengembangkan perkebunan tersebut hingga 40.000 hektar, lewat kemitraan dengan petani lokal,” ujar Kepala Karantina Pertanian Manado, Donni Muksydayan.
Menurutnya pihak Stevia Farm Korea memutuskan Sulawesi Utara sebagai daerah yang paling tepat untuk pengembangan tanaman berdaun manis ini. “Dan akhirnya sukses dibudidayakan di lahan milik warga setempat,” katanya.
Dijelaskan Donni, sebagai pengganti gula tebu, tanaman stevia diklaim lebih sehat karena memiliki kalori yang rendah. Tanaman ini telah lama dikenal di negara maju seperti Korea dan Jepang. Pasar tanaman stevia di luar negeri, kata Donni sangat tinggi karena diproduksi sebagai pemanis pengganti gula tebu untuk produk makanan, minuman dan kosmetik.
“Bersama dengan pemerintah daerah dan semua pihak, kita akan dukung investasi ini, dan PT. BKS kian menambah deretan ekspotir baru Sulut tahun ini, total keseluruhan ada 16 eksportir baru yang dominasi oleh kaum milenial,” katanya.
Di tempat yang sama, Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara, Cerah Bangun mengungkapkan bahwa kegiatan ekspor akan meningkatkan perekonomian masyarakat daerah terlebih pada masa pandemi Covid-19.
“Barang yang diekspor berupa Stevia Dried Leaves dan Small Stems atau stevia dikeringkan dengan tonase netto 1.996,76 Kg, bruto 2.275,96 Kg dengan nomor container MRKU8745842/20 ft negara tujuan Korea Selatan” ungkap Cerah.
Menurutnya, Bea dan Cukai akan terus mendorong potensi ekspor daerah dengan memfasilitas kegiatan ekspor perdana, melakukan sosialisasi dan asistensi tata laksana ekspor serta memberikan pelayanan ekspor 24 jam untuk meningkatkan kinerja ekspor.
“Potensi ekspor tanaman stevia sangat besar untuk dikembangkan khususnya di Minahasa karena merupakan pengganti gula impor di Indonesia pada masa depan,” tukas Cerah.(71)






