KORANMETRO.COM- Provinsi Sulawesi Utara mencatatkan inflasi sebesar 0,51 persen pada bulan Desember 2025 terhadap bulan November.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Aidil Adha, mengatakan tingkat inflasi pada bulan Desember 2025 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
“Pada bulan November Sulawesi Utara mengalami deflasi minus 0,41 persen,” ujar Aidil, di Kantor BPS Sulut, Senin (5/01/2026).
Jenis komoditas yang dominan mendorong inflasi pada bulan Desember adalah cabe rawit dan bawang merah, dengan andil masing-masing 0,47 dan 0,24 persen.
Komoditas lain yang mendorong inflasi adalah daging ayam ras, daging babi, dan emas perhiasan.
Dijelaskan Aidil, pada bulan Desember 2025 harga komoditas cabai rawit mengalami kenaikan karena permintaan meningkat menjelang hari raya Natal, sementara stok di pasar terbatas.
“Stok cabe rawit terbatas setelah berakhirnya musim panen, dan berkurangnya pasokan yang masuk dari Gorontalo,” ungkapnya.
Kenaikan harga bawang merah, menurut Aidil, karena meningkatnya permintaan menjelang hari raya Natal sementara ketersediaan di pasar terbatas akibat musim hujan yang membuat bawang merah membusuk.
“Selain itu berkurangnya suplai dari
daerah penghasil seperti Bima dan Makassar, sehingga pasokan bawang merah berkurang,” jelas Aidil.
Sedangkan komoditas yang menahan inflasi, kata Aidil, antara lain tomat, beras, jam tangan, daun bawang, dan t-shirt wanita.
“Harga komoditas tomat kembali mengalami penurunan pada bulan Desember 2025. Hal ini terjadi
karena pasokan yang melimpah akibat musim panen di beberapa daerah sentra produksi seperti Minahasa dan Minahasa Selatan serta adanya tambahan pasokan dari luar daerah antara lain Palu, dan Surabaya,” kata Aidil.(ian)






