Bea Cukai Sulbagtara Bukukan Penerimaan Rp2,81 Triliun Sepanjang 2025

Kepala Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Dr. Erwin Situmorang.

KORANMETRO.COM- Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara (Sulbagtara) mencatat kinerja yang solid sepanjang tahun 2025, dalam pelaksanaan fungsi pengawasan kepabeanan dan cukai.

Sepanjang 2025, Kanwil Bea Cukai Sulbagtara berhasil membukukan realisasi penerimaan negara sebesar Rp 2,81 triliun, atau melampaui 132 persen dari target yang ditetapkan.

Bacaan Lainnya

Capaian ini mencerminkan optimalisasi peran Bea Cukai sebagai revenue collector yang didukung oleh penguatan sistem pengawasan, kepatuhan pelaku usaha, serta sinergi yang efektif dengan para pemangku kepentingan di daerah.

Kepala Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Dr. Erwin Situmorang, mengungkapkan dari aspek pengawasan, Bea Cukai Sulbagtara mencatat 618 kasus penindakan, yang terdiri atas 461 penindakan di bidang kepabeanan dan 143 penindakan di sektor cukai hasil tembakau dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA).

“Total nilai barang hasil penindakan mencapai sekitar Rp 550 miliar. Khusus pada penindakan MMEA ilegal, penerapan pendekatan ultimum remedium turut menghasilkan penerimaan negara sebesar Rp 7 miliar, menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak hanya bersifat represif, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap penerimaan negara,” ungkap Erwin.

Kinerja Ekspor Terus Menguat
Kinerja pengawasan dan fasilitasi yang dilakukan Bea Cukai Sulbagtara sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri di wilayah kerjanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, hingga November 2025, nilai ekspor Sulawesi Utara tercatat sebesar US$ 1,1 miliar, meningkat sekitar 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Komoditas utama yang mendominasi ekspor provinsi ini meliputi minyak nabati berbasis kelapa dan kelapa sawit, serta produk perikanan.

Sementara itu, Sulawesi Tengah mencatat nilai ekspor sebesar US$ 19,97 miliar, atau meningkat sekitar 3,6 persen dibandingkan tahun 2024. Kinerja ini terutama ditopang oleh industri berbasis sumber daya alam, dengan besi dan baja sebagai komoditas dominan yang menyumbang mayoritas nilai ekspor.

Adapun Provinsi Gorontalo mencatat nilai ekspor sekitar US$ 43,46 juta, tumbuh 2,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan molases sebagai salah satu komoditas unggulan.

Komoditas ekspor dari ketiga provinsi tersebut dipasarkan ke berbagai negara tujuan utama seperti Tiongkok, Vietnam, Taiwan, India, Korea Selatan, dan Jepang.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan