Daya Beli Petani Sulut Menurun, Dipicu Harga Tomat dan Kelapa

KORANMETRO.COM- Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara (BPS Sulut) mencatat, pad bulan Desember 2025, nilai tukar petani (NTP) di Sulut mengalami penurunan 6,16 persen.

Dari 133,42 di bulan November 2025, NTP Sululut turun menjadi 125,21 persen poin, di bulan Desember.

Bacaan Lainnya

Penurunan NTP disebabkan karena indeks harga yang diterima oleh petani menurun sebesar -4,48 persen, sementara indeks yang harus dibayarkan petani naik 1,41 persen.

Kepala BPS Sulut, Aidil Adha, menjelaskan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan disebabkan oleh penurunan pada dua subsektor yaitu hortikulturan dan tanaman perkebunan rakyat

“Komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani yaitu tomat, kelapa, pala biji, gabah dan kol atau kubis,” ungkap Aidil.

Menurutnya, harga tomat mengalami penurunan sehingga indeks yang diterima oleh petani pun mengalami penurunan.

“Kelapa juga mengalami penurunan, baik itu harga maupun permintaan ekspornya nanti itu juga mengalami penurunan di mana untuk kelapa ini penyebab dari komoditas utama yang menyumbang indeks yang diterima oleh petani mengalami penurunan karena harga kelapa mengalami penurunan,” ujar Aidil.

Ia mengatakan, dari lima subsektor pertanian yang dipantau pada bulan Desember, terdapat tiga subsektor yang mengalami penurunan NTP dan dua subsektor yang mengalami kenaikan.

Kata Aidil, subsektor yang mengalami penurunan NTP yaitu tanaman pangan yang turun sebesar 0,19 persen; subsektor hortikultura yang turun sebesar 22,40 persen; dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 4,54 persen.

“Sementara subsektor yang mengalami kenaikan NTP yaitu peternakan yang mengalami kenaikan sebesar 0,30 persen dan perikanan sebesar 0,62 persen,” katanya.

Aidil bilang, kenaikan indeks harga yang dibayarkan petani, komoditas utama penyumbangnya adalah cabai rawit dan bawang merah.

Dijelaskan Aidil, komponen indeks yang diterima oleh petani, terdiri dari indeks biaya produksi dan konsumsi yang dikeluarkan oleh petani. Akibat dari kenaikan dari harga cabai rawit, maka katanya, konsumsi atau pengeluaran petani untuk konsumsi juga mengalami kenaikan

“Jadi dua komoditas inilah yang menyumbang terhadap kenaikan indeks harga petani,” katanya.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan