oleh

Peran Perguruan Tinggi Menghadapi Mahasiswa Gagal Ukom Berdasarkan Pendekatan Teori Sistem Newman

Oleh :

Heyni F Kereh, S.Kep.Ns

Pembimbing :

Dr. Titih Huriah, S.Kep.Ns, M.Kep, Sp.Kom

 

SEKARANG bukan adu ijazah tetapi skill” mengutip dari Media beritasatu.com kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menekankan pentingnya kompetensi dan ketrampilan untuk memasuki persaingan dalam dunia kerja.

Berdasarkan UU No.36/2014 dan UU No. 38/2014 mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa pendidikan vokasi dan profesi harus mengikuti uji kompetensi secara nasional. Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku peserta didik pada perguruan tinggi bidang kesehatan. Uji kompetensi diselenggarakan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten sesuai dengan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi kerja (PBM no. 36 tahun 2013)

Evaluasi kelulusan kompetensi mahasiswa keperawatan merupakan bagian dari jaminan kualitas pendidikan tinggi keperawatan, dimana lulusan pendidikan ini akan bekerja di tatanan pelayanan yang berhubungan dengan dunia nyata dengan subjek manusia harus mampu melaksanakan profesinya dengan kompeten (Prosiding,Seminar Nasional Ukom 2017).

Apabila tidak lulus uji kompetensi, mahasiswa harus mengikuti uji kompetensi pada periode selanjutnya dan mendapat program bimbingan dari institusi asalnya serta tidak dapat melakukan praktek keperawatan karena belum bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi (Anggraeni, 2013).

Hasil uji kompetensi dipengaruhi oleh faktor eksternal : try out, kurikulum/metode pembelajaran, faktor dosen sedangkan faktor internal : kecerdasan, minat dan bakat, motivasi beberapa faktor tersebutlah yang dapat mempengaruhi hasil uji kompetensi peserta (Abdilah A.2016).

Selain faktor diatas (dikutip oleh Al Khoriah Etiek Nugraha,2017 dalam Rakyatku.Com,Makassar) penyebab yang membuat perawat berguguran dalam ujian kompetensi diantaranya, pertama mempelajari contoh soal yang tidak sesuai standar,lalu di-share ke teman, dan akhirnya tidak lulus secara berjamaah.

Kedua, tidak punya strategi saat ujian,banyak yang asal nekat mengikuti ujian tanpa persiapan amunisi,akhirnya hasilnya juga asal, dan terakhir peserta ujian tidak memahami anatomi soal yang dihadapi.

Masalah lain yang berkaitan dengan uji kompetensi di Indonesia yaitu masih rendahnya angka kelulusan uji kompetensi secara keseluruhan, masih tingginya kesenjangan angka kelulusan antar institusi pendidikan keperawatan di Indonesia dan masalah jumlah peserta UK yang belum lulus (retaker) yang semakin banyak.

Uji kompetensi nasional adalah alat untuk memberi keputusan pemberian lisensi perawat. Uji kompetensi nasional harus secara psychometric benar dan konsisten dengan praktik keperawatan terkini (Fulcher dan Mullin, 2011).

Hasil uji kompetensi nasional dapat dijadikan elemen penting dalam transformasi kurikulum pendidikan. Hal ini sejalan yang disampaikan Menteri Teknologi, Riset, dan Pendidikan Tinggi (dikutip dalam Berita New.com); Mohamad Nasir mengatakan, perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kesehatan harus tegas melakukan uji kompetensi.

Sebab, kampus memiliki tanggung jawab dalam membentuk sumber daya manusia (SDM). Menjawab persoalan diatas maka Institusi pendidikan memiliki berbagai cara dan usaha untuk memprediksi tingkat kesuksesan ujian nasional selama proses pendidikan (Grossbach dan Kuncel,2014).

Pelaksanaan proses pendidikan untuk memperlengkapi mahasiswa sebagai calon peserta dalam mengikuti ujian kompetensi nasional diperlukan suatu pendekatan metode yaitu teori Betty Newman konsep “Health care system” yaitu model konsep yang menggambarkan aktifitas keperawatan yang ditujukan kepada penekanan penurunan stress dengan memperkuat garis pertahanan diri secara fleksibel atau normal maupun resistan dengan sasaran pelayanan adalah komunitas.

Betty Newman mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistic dan pendekatan system terbuka. Sistem terbuka menghasilkan interaksi yang dinamis. Variabel interaksi mencakup semua aspek yaitu fisiologis, psikologis, sosio kultural, perkembangan dan spiritual.

Sistem pada teori sistem Neuman terbentuk dari individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Model memandang individu, keluarga, kelompok dan komunitas yang berinteraksi secara konstan dengan stressor dilingkungan secara dimensional. Model fokus pada klien terhadap stress serta faktor pemulihan (adaptasi).

Asumsi dasar dari teori Neuman yaitu individu merupakan sistem unik dengan respon berbeda. Kurang pengetahuan, perubahan lingkungan dapat merubah stabilitas individu (fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan, spiritual).

Individu dalam memberikan respon harus mempunyai koping yang stabil terhadap stressor, karena lingkungan internal dan eksternal dapat merupakan penyebab stress. Untuk itu individu akan bereaksi terhadap stressor dari lingkungan dengan mekanisme pertahanan diri.

Pencegahan primer berdasarkan teori sistem Neuman yaitu mengidentifikasi faktor resiko dan membantu masyarakat dalam meningkatkan kesehatan dan aktifitas pendidikan kesehatan. Pencegahan sekunder yaitu inisiatif dalam bentuk intervensi jika terjadi masalah.

Perawat berperan sebagai Early Case Finding, pengobatan setelah pasien terdiagnosa mengidap suatu penyakit. Pencegahan tersier yaitu mempertahankan kesehatan, Perawat membantu dengan adaptasi dan reduksi untuk mencegah komplikasi. Asuhan keperawatan ditujukan untuk mencegah dan mengurangi reaksi tubuh akibat stressor dengan pencegahan primer, sekunder dan tersier.

Pola pengembangan ilmu keperawatan menurut teori sistem Neuman bertujuan untuk stabilitas system. Hal itu dapat dilukiskan sebagai cincin dengan satu pusat yang mengelilingi inti.

Cincin paling dalam mewakili garis pertahanan untuk melawan stressor seperti sistem pertahanan tubuh dan defens mekanism. Cincin terluar merupakan garis pertahanan yang mewakili keadaan normal pasien. Defens Mekanism tersebut adalah mekanisme bertahan koping).

Menurut Newman sebagai system terbuka manusia berinteraksi, beradaptasi dengan dan disesuaikan dengan lingkungan yang digambarkan sebagai stressor. Lingkungan internal terdiri dari segala Sesuatu yang mempengaruhi (interpersonal) yang berasal dari dalam diri klien, lingkungan eksternal segala sesuatu yang berasal dari luar diri klien.

Teori tersebut menggambarkan kesatuan sistem yang bekerja sama dan saling mempengaruhi, seperti proses pendidikan di suatu institusi. Mahasiswa sebagai input dengan latar belakang yang berbeda-beda memasuki perguruan tinggi dan menjalani proses pendidikan hingga mahasiswa dapat mencapai tujuan pendidikan dan kompetensinya.

Pendidikan di Indonesia memiliki tujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Sistem pendidikan perguruan tinggi Indonesia memiliki empat tahap yaitu input, proses, output, dan outcome (Martha Kyoshaba, 2009, Dent JA, Harden RM, 2009, Anonimous, 2012, Amin Z, Eng KH., 2007) :

1. Mahasiswa sebagai input di perguruan tinggi yang dipengaruhi oleh faktor bawaan diantaranya gender, status sosial ekonomi orang tua (pendidikan, pendapatan, pekerjaan), latar belakang pendidikan sebelumnya, dan nilai seleksi masuk (Kyoshaba, 2009),

2. Proses, merupakan kegiatan yang berlangsung selama di perguruan tinggi, dipengaruhi oleh institusi pendidikan (materi pembelajaran, pengajaran dan strategi pembelajaran, sumber daya, serta evaluasi hasil belajar) dan mahasiswa (faktor akademik yaitu ketrampilan belajar, ketidakhadiran dalam kegiatan akademik, indeks prestasi kumulatif; faktor non akademik internal yaitu minat, bakat, motivasi, perilaku belajar, kesehatan; faktor akademi eksternal yaitu keluarga) yang menjalani proses pendidikan.

3. Output. Setelah menjalani proses pendidikan mahasiswa memperoleh nilai (IPK) sebagai hasil pembelajaran yang dicapai. Penilaian hasil belajar merupakan standarkompetensi yang dicapai mahasiswa selama pembelajaran.( Kyoshaba, 2009) Selanjutnya mahasiswa mengikuti uji kompetensi sebagai standarisasi pendidikan di seluruh Indonesia.

4. Outcome, merupakan standar pelayanan yang diberikan oleh seorang perawat terhadap pasien dan masyarakat. Seorang perawat dapat melakukan praktik keperawatan setelah mengikuti uji kompetensi, memperoleh STR dan memiliki surat izin praktik..

Setiap Institusi pendidikan menyikapi masalah ujian kompetensi nasional sudah berusaha sebaik mungkin untuk membantu peserta didik, seperti yang dilaksanakan di kampus Akper Rumkit Tk.III Manado dimana mahasiswa semester V (lima) sudah mulai dengan pelaksanaan Try Out internal dengan persyaratan teknis ujian mengacu prasyarat ujian kompetensi nasional, adapun kegiatan meliputi bimbingan dalam bentuk pendampingan calon peserta ukom di dalamnya memperkenalkan tipe soal dan trik penyelesaian soal dan tidak kalah pentingnya dilakukan pembahasan contoh-contoh soal mata kuliah bidang keahlian,adapun soal yang digunakan tersebut adalah kewajiban dari setiap dosen pengampu mata kuliah, mereka wajib memasukkan sejumlah soal di akhir semester . Kegiatan ini diharapkan mahasiswa sebagai peserta ujian kompetensi mereka sudah siap secara fisik dan psikis dalam mengikuti ujian kompetensi sehingga apa yang menjadi harapan peserta,institusi dan orangtua bisa terwujud yaitu KOMPETEN. (***)