oleh

Sambut Hari Raya Keagamaan, Ini Himbauan Kakan Kemenag Minahasa Utara

METRO, Manado- Hari raya keagamaan tahun ini terasa berbeda karena Pandemi Covid 19, kebebasan berkumpul dan beribadah harus dibatasi, semua ini dilakukan untuk memutus rantai penyebarannya.

Demikian kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Minahasa Utara Pendeta Anneke M Purukan saat diwawancarai di kantornya yang ada di bilangan komplek kantor gabungan Pemkab Minut.

Lanjut Purukan mengatakan bahwa Kementerian Agama telah merilis regulasi yang meminta kepada seluruh jajarannya baik di pusat maupun di daerah serta lembaga pendidikan untuk menegakkan protokol kesehatan 5 M. Hal itu tertuang dalam Instruksi Menag No 1/2021 tentang Gerakan Sosialisasi Penerapan Protokol Kesehatan 5 M.

Gerakan yang diinstruksikan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu meminta jajaran kementerian untuk menerapkan protokol kesehatan di lingkungan termasuk menjadi teladan masyarakat.

Kelima protokol tersebut yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas dan interaksi, serta menjauhi kerumunan. Instruksi tersebut menindaklanjuti instruksi Presiden Joko Widodo dari hasil rapat terbatas pada pekan lalu.

“Melalui edaran Menteri Agama No 1/2021 seluruh ASN dan Karyawan di lingkungan Kemenag Minut diwajibkan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Selain itu ASN juga diwajibkan menjadi teladan, mensosialisasikan serta mengajak para Tokoh Agama dan umat beragama di Minahasa Utara untuk menereokan protokol kesehatan 5 M tersebut.

Terkait pelaksanaan hari-hari raya keagamaan Purukan menambahkan bahwa saat ini Kristiani sementara memaknai penderitaan Yesus Kristus melalui peristiwa Jumat Agung dan bersiap merayakan Paskah, demikian juga umat Islam sebentar lagi akan menjalankan Ibadah Puasa. Purukan menghimbau agar umat dapat menjalankannya dengan penuh kesungguhan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

“Dalam menghadapi hari raya keagamaan marilah kita melaksanakannya dengan penuh kesungguhan meminta pertolongan TYME agar masa pandemi bisa segera berakhir. Selain itu kitapun perlu menunjukan kepada TYME bahwa usaha kita sebagai implementasi doa adalah tindakan yang konkrit contohnya tidak berjabatan tangan atau menjaga jarak ketika bertemu dengan orang , memakai masker dan selalu mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer baik di rumah maupun di rumah ibadat. Hal ini bagian dari upaya kita untuk menekan laju paparan Covid-19 dan tentu saja ini bagian dari tugas kemanusiaan kita, dan kepatuhan kita kepada TYME,” tegas Purukan.

Menyikapi peristiwa bom bunuh diri di depan gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri Purukan mengatakan bahwa tindakan terorisme tidak mewakili agama apapun di Indonesia, tetapi hal tersebut adalah murni keinginan pribadi.

“Saya mengharapkan dan mengajak kita semua agar jangan mudah terpancing dengan keadaan yang terjadi belakangan ini diantaranya bom bunuh diri di Makassar maupun penyerangan di Mabes Polri. Tidak ada satu agama apapun yang mengajarkan tindakan terorisme, peristiwa yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri adalah murni keinginan sendiri berdasarkan pemahaman pribadi yang menyimpang bukan berdasarkan ajaran agama. mari kita menyerahkan kasus ini kepada pihak yang berwajib dan sebagai umat beragama mari kita saling mendoakan, saling menjaga dan saling bekerjasama baik inter, antar umat beragama dan antar umat beragama dengan pemerintah.

Tambah Purukan lagi bahwa sejak tahun 2020 Kementerian Agama RI telah melakukan sebuah terobosan sebagai upaya memelihara kerukunan umat beragama di Indonesia yaitu dengan merancang program strategis nasional yang disebut program Moderasi Beragama.

“Program ini telah dituangkan dalam rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dengan harapan bahwa semua Kementerian dan Lembaga dapat berperan aktif mewujudkan di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing Kementerian dan Lembaga terkait program Moderasi Beragama,” katanya.

“Moderasi Beragama dipahami sebagai cara pandang, sikap dan praktek beragama dalam kehidupan bersama dengan selalu melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berdasarkan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa. Dengan Moderasi Beragama diharapkan bahwa paham dan sikap terhadap kemajemukan hidup bersama diterima dan dihargai dan bukan sebaliknya meniscayakan keberagaman yang berujung pada sikap fanatisme dan intoleransi, marilah kita terapkan moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya lagi di Kabupaten Minahasa Utara. Selamat Menghayati Kematian Yesus Kristus, Selamat Merayakan Pasakah dan selamat menyambut bulan suci Ramadhan,” pungkas Purukan.(*)

Komentar