Hengky Beber Keluh Kesah Nelayan

>> Hengky Honandar.
Hengky Honandar.

METRO, Bitung- Puluhan nelayan asal Bitung mendapat pelatihan dari pakar Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka dibekali dengan materi pemberdayaan untuk peningkatan kapasitas dan cara pengolahan ikan.

Kegiatan pelatihan ini berlangsung Senin (13/12) kemarin di Kantor Walikota Bitung. Kegiatan tersebut diadakan PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PII) (Persero), lewat program corporate social responsibility.

Bacaan Lainnya

Wakil Walikota Bitung Hengky Honandar saat membuka pelatihan menyampaikan terima kasihnya. Ia mengapresiasi kepedulian yang ditunjukan PT PII.

“Kami optimis pelatihan ini akan membawa hasil yang positif bagi nelayan. Kemampuan dan pengetahuan akan meningkat dan pada gilirannya akan berdampak pada kesejahteraan,” ujarnya.

Hengky pun memanfaatkan kegiatan itu untuk menyampaikan harapannya. Ia membeber kondisi para nelayan yang kesulitan memenuhi kebutuhan industri perikanan.

“Nelayan kita belum mampu memenuhi kebutuhan perusahaan pengalengan ikan. Hasil tangkapan belum cukup banyak. Tapi ini bukan karena kemampuan melaut, melainkan karena regulasi yang mengatur wilayah tangkapan,” ungkapnya.

Hengky paham betul kondisi itu karena latar belakangnya seorang pengusaha perikanan. Sudah begitu, keluhan soal tersebut juga berkali-kali didapatnya dari para nelayan.

“Banyak nelayan kita ditangkap petugas karena dianggap melewati batas wilayah saat melakukan penangkapan. Padahal ikan itu punya kebiasaan bermigrasi. Jadi harapannya PT PII dan juga ITB bisa membuat kajian tentang ini. Tujuannya tentu kajian itu akan jadi masukan bagi kementerian agar bisa menyesuaikan regulasi,” tuturnya.

Mantan anggota DPRD Sulut ini menegaskan industri perikanan jadi tumpuan utama Bitung dalam mendorong perekonomian. Jika sektor itu kolaps, maka imbasnya akan sangat terasa bagi masyarakat secara keseluruhan. Karena itulah kata dia, butuh perhatian semua pihak untuk bisa membangkitkan lagi industri perikanan di daerah ini.

“Dan saya yakin di daerah lain juga seperti ini. Kalau aturannya tidak disesuaikan, sulit sektor perikanan kita bisa maju,” tukasnya.

Salah satu pakar IPB yang hadir dalam kesempatan itu, Dahru Iskandar, langsung memberi respon. Akademisi dari Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan pada Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB ini memahami penyampaian Hengky.

Dahru mengaku siap membantu. Hanya saja kata dia, para nelayan juga harus menghormati ketentuan yang berlaku soal penangkapan ikan.

“Kalau untuk wilayah penangkapan memang bisa diatur lagi. Dan kami bisa mensupport itu sesuai kapasitas yang dimiliki. Tapi untuk ketentuan lain sifatnya memang harus. Contohnya seperti transshipment (alih muatan hasil tangkapan ikan di tengah laut,red) dan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan. Ketentuan ini harus dihormati dan dipatuhi nelayan karena tujuannya untuk kepentingan yang lebih luas. Ini terkait dengan kegiatan ekspor dan keberlangsungan sumber daya kelautan kita,” paparnya.

Dahru sendiri optimis sektor perikanan di Bitung akan kembali bangkit. Salah satu kuncinya kata dia, adalah komitmen yang jelas untuk menjaga keberlangsungan sumber daya perikanan. Jika hal itu terpenuhi, ia yakin bahan baku ikan akan tersedia dengan baik.

“Salah satu penyebab kurangnya bahan baku adalah cara tangkap yang tidak ramah lingkungan dan tidak memperhatikan keberlangsungan sumber daya. Jadi kalau ini dibenahi, sudah pasti ketersediaan bahan baku akan melimpah untuk waktu yang lama,” katanya.(69)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan