Sejumlah Wilayah Sulut Alami Kekeringan, Petani Terancam Gagal Panen

Ilustrasi suhu panas. Foto: gemini.

KORANMETRO.COM- Sulawesi Utara (Sulut) memasuki puncak musim kemarau di bulan Agustus-September 2026.

BMKG memprediksi musim kemarau akan bertahan hingga awal tahun 2027. Fenomena El Nino dalam fase sangat kuat menyebabkan musim kemarau tahun ini lebih panjang dan kering.

Bacaan Lainnya

Sejumlah pihak menilai kombinasi musim kemarau dan El Nino fase sangat kuat berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi kering berupa kekeringan hingga krisis air bersih.

Di beberapa daerah di Sulut bencana kekeringan mulai dirasakan.

Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara mencatat krisis air sudah dirasakan warga di wilayah Bolaang Mongondow Utara, Minahasa, dan Kota Bitung.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, melalui Kepala BPPMTPH, Nova Sumolang, mengungkapkan bahwa krisis air dan gagal panen sudah terjadi di beberapa wilayah.

“Seperti di Kecamatan Bolangitang Timur dan Kaidipang itu memang sudah agak kering, karena sawahnya bergantung pada air hujan atau sawah tadah hujan,” ungkapnya.

Menurut Nova, di Bolangitang Timur, debit air di jaringan irigasi juga sudah sangat berkurang, dan sumber airnya hampir tidak ada.

“Jadi memang kemungkinan kalau tidak ada hujan lagi, kemungkinan ke arah puso, tanam padi, padi sawah khususnya,” jelasnya.

Nova juga mengungkapkan, di Bolaang Mongondow Selatan ada sekitar 84 hektar status atau kategorinya masih ringan, karena masih ada curah hujan.

Kemudian, katanya, untuk Kabupaten Minahasa Selatan ada sekitar 14,5 hektar jagung masuk status kategori berat, karena daunnya sudah menggulung, sehingga kemungkinan kalau tidak ada hujan dipastikan gagal panen.

“Juga di Kota Bitung ada sekitar 2 hektar tanaman jagung statusnya atau kategorinya juga sudah berat,” kata Nova.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan