KORANMETRO.COM- Arif, hanya bisa menatap kosong ke tanaman jagung miliknya yang kering. Tahun ini Arif mengalami gagal panen atau puso.
Awal Juni lalu Arif mulai menanam komoditas jagung di lahan seluas 2 hektare, yang berlokasi di Lingkungan 7, Kelurahan Mapanget Barat, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Besar harapan Arif, 3 bulan kemudian lahan jagungnya akan panen. Berbagai upaya dilakukan, dengan harapan tanaman jagung tumbuh subur supaya hasilnya maksimal.
Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Musim kemarau panjang diperparah dengan fenomena El Nino, yang berlangsung sejak awal Juni, menyebabkan lahan jagung Arif kering sebelum tiba masa panen.
Arif kini hanya bisa pasrah, tanaman jagungnya layu sebelum berkembang.
“Bibit saya tanam habis Lebaran, sekitar akhir Mei. Memang ada beberapa pohon yang sempat keluar jagung, namun langsung kering. Yah, mau bagaimana lagi. Semoga saja ada perhatian dari pemerintah,” kata Arif, saat ditemui, Kamis (3/9/2026).
Akibat gagal panen, Arif mengaku merugi hingga Rp25 juta rupiah. Itu belum termasuk biaya pembelian bibit, pupuk, dan ongkos pemeliharaan selama masa tanam.
“Biasanya saya panen 6-7 ton, tapi karena panas, hasilnya hanya 600 kilogram. Kalau mau dihitung-hitung kerugian sekitar Rp25 juta,” ungkap Arif.
Selain Arif, ada beberapa petani di Mapanget Barat yang bernasib serupa, mengalami puso.
Ketua Kelompok Tani Kalisapun, Mapanget Barat, Jery Ramoh, mengungkapkan bahwa dari 13 anggota kelompok Kalisapun, cuma 2 petani yang berhasil panen.
“Dua petani sempat panen namun hasilnya sedikit. Sekarang kita hanya bisa berharap hujan segera turun, dan semoga ada perhatian pemerintah terkait bibit dan Alsintan,” kata Jery.(ian)






