KORANMETRO.COM- Musim kemarau di Sulawesi Utara sudah berlangsung selama 4 bulan, dan memasuki puncaknya pada bulan Agustus-September 2026.
Kemarau tahun ini lebih panjang dan kering dari biasanya, karena dampak fenomena El Nino dalam fase kuat.
Kombinasi El Nino dan musim kemarau membuat kondisi semakin kering, dengan curah hujan yang berkurang dan risiko kekeringan yang meningkat di Sulawesi Utara.
El Nino tahun ini masuk ke dalam kategori sangat kuat, dan diprediksi bertahan sampai Februari 2027. Hal ini akan berdampak pada berkurangnya curah hujan, walaupun pada saat nanti akan memasuki musim penghujan.
El Nino umumnya menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering, karena curah hujan berkurang dan hari tanpa hujan berlangsung lebih lama. Kondisi ini dapat membuat tanah dan tanaman cepat kering, berkurangnya persediaan air di sungai, waduk, dan sumur, serta meningkatkan resiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, melalui Koordinator Bidang Observasi dan Informasi, Muhammad Candra Buana, mengungkapkan hasil monitoring BMKG menunjukkan ada 12 lokasi di wilayah Sulut yang mengalami hari tanpa hujan dengan kriteria ekstrem selama lebih dari 60 hari.
“Kemudian kriteria sangat panjang selama 31-60 hari terjadi di 131 lokasi, dan wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dengan kriteria terjadi di 1 lokasi,” ujar Candra, Jumat (18/9/2026).
Data BMKG menunjukkan grafik El Nino saat ini masih belum landau, dan masih dalam rentang sangat kuat. Sehingga hal ini memperparah musim kemarau di wilayah Sulawesi Utara.
Saat El Nino dan musim kemarau, curah hujan menjadi berkurang, sehingga di wilayah Sulut sudah banyak yang mengalami kekeringan. Air sumur kering, kebakaran lahan dan gagal panen, merupakan dampak yang dirasakan masyarakat.
BMKG merilis prakiraan iklim bulan September yang secara umum masih rendah berpeluang hujan. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian masyarakat untuk selalu bijak dalam menggunakan air.(ian)






