oleh

Lagi, Satu Warga Tondano Meninggal Akibat DBD

METRO, Tondano – Penyakit Demam Berdarah Dungue (DBD) kembali memakan korban di Minahasa. Terbaru jika penyakit tersebut kembali membuat satu warga di Kelurahan Watulambot, Kecamatan Tondano Barat meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Minahasa dr Yuliana Kaunang tak menapik akan hal itu ketika dikonfirmasi, Sabtu (25/08/2018).

“Ini memang sudah kejadian luar biasa. Sebab, beberapa bulan terakhir ini angka kematian disebabkan DBD terus meningkat, dan ini harus diwaspadai karena jumlah kematian tahun ini telah enam warga,” kata Kaunang.

Dijelaskannya, DBD disebabkan oleh tidak bersihnya lingkungan di sekitar rumah, sehingga jentik-jentik nyamuk dengan mudah berkembang biak.

Kaunang menghimbau kepada seluruh instansi terkait, Kecamatan, kelurahan dan desa agar menggalang bersih-bersih secara serentak untuk meminimalisir timbulnya jentik-bentuk nyamuk yang menyebabkan DBD.

Dijelaskannya lagi selama ini Dinkes sudah melakukan penyuluhan disetiap kecamatan tentang kebersihan. Selain itu Dinkes bersama Pusat Kesehatan masyarakat (Puskesmas) telah melakukan Foging jentik-jentik nyamuk di titik yang dianggap rawan DBD.

“Minggu ini kita akan turun melakukan foging secara serentak di Tondano Raya dan sebagian wilayah Minahasa,” jelas Kaunang.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian penyakit Dinkes Minahasa dr Maximilianus Johan Umboh menambahkan, bulan Januari hingga Agustus 2018, suda terdapat 70 kasus DBD. Sedangkan kasus Dungue, berjumlah 298 orang.

“Demam dengue dan DBD sama-sama disebabkan oleh virus dengue, namun ada perbedaan dasar pada keduanya, yaitu kebocoran plasma. Pada demam dengue gejala hanya berupa demam dan syok namun tidak sampai disertai dengan kebocoran plasma. Jika dibiarkan Demam Dungue bisa menjadi DBD,” pungkasnya.

Penulis: Marcelino