Demo di Dekot Manado, Warga Minta Lurah Malalayang II Diganti

METRO, Manado- Puluhan warga Malalayang II Kecamatan Malalayang, mendatangi kantor DPRD Manado, Kamis (12/09/2019) kemarin. Mereka menyampaikan aspirasi menolak dan meminta penggantian lurah mereka, Noldy Damo.

Kepada tiga legislator, yakni Benny Parasan, Bobby Daud dan Meikel Maringka mereka menyerahkan tujuh permintaan dan dua tuntutan kepada DPRD dan Pemerintah Kota Manado.

“Kami keberatan dengan sikap dan kata-kata lurah di Malalayang II,” ungkap perwakilan warga Rivan Kalalo, di ruangan komisi IV DPRD Manado.

Ia menuturkan, penolakkan tersebut berawal dari sikap lurah saat pemakaman seorang warga di kelurahan itu bernama Merry Kelatow, yang dinilai tidak pantas sehingga membuat warga dan keluarganya tersinggung.

“Keluarga tersinggung karena pak Lurah bilang lahan pemakaman sudah penuh dan meminta keluarga untuk menguburkan jenazah di tempat lain,” terang Kalalo.

”Kami tidak masuk campur dengan urusan lahan pekuburan, kami memprotes sikap dan perbuatan serta kata-kata lurah Malalayang II pak Noldy Damo, yang tidak baik dan menyinggung masyarakat,” tambah dia.

Sementara, Lurah Malalayang II, Noldy Damo membantah kalau dia bersikap tidak baik, sombong dan suka menyebarkan kebencian pada warga.

Ia mengungkapkan, justru pada saat kedukaan dan menjelang pemakaman ia menerima pemberitahuan dari Hukum Tua Kalasey II Mandolang, yang melarang membawa jenazah dimakamkan di TPU warga di Kalasey II, karena akan dicegat massa di situ.

“Jadi saya menyampaikan pada keluarga, dan usai menyampaikan sambutan langsung pergi karena menyiapkan penggalian kubur jenazah Merry Kaletouw yang kemudian dimakamkan meskipun tidak dalam, namun akhirnya tetap dimakamkan,” terang dia.

Dia menjelaskan, TPU Kalasey itu bermasalah karena ternyata lahan itu milik Pemprov Sulut. Ada pelarangan melakukan apapun di atas tanah itu, namun ada pembelian tanah yang tidak diketahui lurah dan LPM Malalayang II sehingga dilarang melakukan kegiatan diatasnya termasuk memakamkan jenazah.

Legislator Benny Parasan, Bobby Daud, dan Meikel Maringka, yang menerima penyampaian aspirasi itu, berusaha memfasilitasi pertemuan antara kedua belah pihak, agar tidak berkelanjutan dan saling menghormati hak-hak masyarakat maupun pemerintah.

“Jadi kami harapkan agar lurah lebih mawas diri dalam berbicara, juga masyarakat tetap saling menghargai dan menghormati, juga jangan sampai melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Bobby Daud.

Sementara Benny Parasan nengatakan menerima semua aspirasi dan masalah TPU tersebut akan menjadi bahan pembicaraan dengan pemerintah. Demikian juga dengan Meikel Maringka yang minta agar masalah tersebut diselesaikan dengan baik-baik, jangan sampai berkepanjangan dan harus diselesaikan dengan baik, sebagai lurah harus mawas diri dan masyarakat diminta agar lebih menahan diri.(into)

Bagikan sekarang...

Berita Terbaru