oleh

Jalan Masuk Perum Green Hill Bakal Ditutup, Ahli Waris JB Lasut Klaim Hak Milik

METRO, Manado- Ahli waris Johakim Bernad (JB) Lasut mengklaim kalau mereka adalah pemilik sebagian besar tanah yang berada di Distrik Aris (Ares) yang berlokasi di Kecamatan Paal Dua Kota Manado, termasuk sebagian wilayah di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) dari situ, mereka bakal mengambil kembali seluruh tanah secara bertahap yang merupakan milik JB Lasut.

Salah satu ahli waris JB Lasut, Sunny Mantiri mengatakan kalau pihaknya saat ini akan kembali mengambil alih tanah yang saat ini telah dibangun akses jalan masuk perumahan Green Hill, itu diklami merupakan milik keluarga mereka. Langkah yang akan dilakukan yaitu menutup akses jalan masuk perumahan.

Sunny menjelaskan, Johakim Bernad Lasut memiliki tujuh orang anak yang diantaranya hukum besar pertama Distrik Aris yaitu Samuel Bernad (SB) Lasut dan hukum besar kedua Welhemus Bernad (WB) Lasut yang merupakan ayah dari Catarina Lasut, Nenek Totu dari Sunny Mantiri. Dan tanah yang saat ini sudah diklaim banyak pihak sebagai pemilik di wilayah Ring Road adalah milik SB Lasut dan WB Lasut.

Silsilah keluarga Lasut (Foto : Sunny Mantiri)

 

Menurut Sunny, dahulunya pemerintah Desa Maumbi mengklaim bahwa sebagian tanah yang berada di Ring Road, salah satunya tanah yang saat ini jalan menuju perumahan Green Hill, masuk wilayah pemerintahan Desa Maumbi. Oknum Hukum Tua berinisial AE menjual tanah itu kepada oknum purnawirawan TNI AD bintang dua berinisial EM.

Pihak ahli waris pernah mendatangi PT Statika Kensa Prima Citra (SKPC) selaku pengembang perumahan Green Hill, saat pembangunan baru dilakukan pematangan lahan (cutting) dan penataan jalur drainase yang diterima langsung oleh salah satu pimpinan PT SKPC saat itu yaitu Maxi Mandagi yang menyatakan bahwa tanah itu dibeli dari keluarga EM.

“Pak torang klaim ini tanah milik kami. Dan kata Pak Maxi saat itu, karena ini perusahaan maka perlu dibuktikan dengan sertifikat. Jadi, Pak Maxi saat itu memberikan uang 10 juta untuk operasional dan biaya pembuatan sertifikat. Dan saat itu ayah kami bersama Alfon Once Saleh menandatangani surat kesepakatan bersama dan menyerahkan sebuah sertifikat milik Alfons sebagai jaminan dari uang 10 juta itu. Karena saat itu tidak membawa kacamata, maka setelah sampai di rumah, ayah kami kembali membaca surat kesepakatan itu. Dan ternyata pihak pengembang hanya memberikan waktu 2 bulan untuk mengurus sertifikat. Dan apabila tidak selesai, maka sertifikta tanah yang menjadi jaminan akan dijual oleh mereka dan kelebihannya dikembalikan. Dalam surat itu juga menjelaskan bahwa luas tanah sebesar 1000 meter persegi hanya dihargakan sebesar 50juta. Jelas ayah kami merasa keberatan. Tiga minggunya bersama Alfon Once Saleh sekaligus menjadi saksi mengembalikan uang 10 juta dan mengambil kembali sertifikat yang dijaminkan,” kata Sunny.

Akses jalan masuk Green Hill yang diklaim milik JB Lasut (Foto : Sunny Mantiri)

Lanjut dia, di tahun 2011, sebanyak tiga kali dirinya mendatangi PT SKPC. Dan Maxi Mandagi yang menerimanya di pos keamanan, tapi tidak terjadi kesepakatan, bahkan dirinya diusir secara halus.

“Pada intinya kami pihak keturunan Lasut memiliki bukti yang akurat. Dan sementara pihak yang mengklaim pemilik tanah yaitu keluarga EM dengan bukti sertifikat, setelah ditelisik, ternyata tanah yang dimaksud dalam sertifikat berada di Desa Sukur Airmadidi dan bukan disitu. Jadi pihak PT SKPC yang menyatakan membeli tanah tersebut dari keluarga EM, salah lokasi tanah. Bukti lain dari kami sebagai pemilik tanah, disamping jalan masuk perumahan Greend Hill terdapat bangunan milik Hengki Siswanto (telah dijual kembali) dan tanah Robert Wongkar. Tanah itu dibeli dari Alm David JFS Mantiri, anak ke 4 dari H.W.T Mantiri dan cucu dari Julian Mantiri dan Catarina Lasut pada tahun 2008 dan 2009. Karena alas hak dan sejarah tanah lengkap ada kepada kami,” bebernya.

Dengan bukti-bukti kepemilikan tanah yang dimiliki keluarganya sebagai ahli waris Johakim Bernad Lasut, maka pihaknya akan mengambil langkah menutup akses jalan masuk ke perumahan Greend Hill dan akan menempuh upaya hukum.

“Kami tidak melakukan upaya hukum sejak dulu, karena ayah kami sakit struk dan meninggal 2015. Jadi dalam waktu dekat kami akan segera menutup jalan masuk ke perumahan Green Hill, karena tanah itu milik kami dengan bukti surat ahli walis, peta garisan tanah yang diterbitkan sejak Tahun 1922, diperbaharui 1938 dan terakhir 1946, serta keterangan saksi-saksi yang masih hidup,” ujarnya.

Sementara itu, pihak PT SKPC belum berhasil dimintai konfirmasi terkait pemberitaan ini.(red)

Komentar