NTTI Angkut Lebih Dari 100 Ton Sampah Plastik Dari Sungai-sungai Kota Manado

KORANMETRO.COM- Sepanjang tahun 2025, No Trash Triangle Initiative (NTTI) telah mengangkut lebih dari 100 ton sampah plastik, dari sungai-sungai yang ada di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Yayasan Segitiga Non-Sampah adalah organisasi non-pemerintah (NGO) yang berbasis di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.

Bacaan Lainnya

Organisasi ini didirikan untuk melindungi kawasan Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang) dari ancaman pencemaran sampah plastik laut.

NTTI memasang trash barrier (pembatas sampah), di sejumlah titik sungai yang ada di Kota Manado. Trash barrier adalah alat penghalang terapung atau sistem penyaringan yang dipasang di permukaan sungai, saluran air, atau irigasi untuk menahan dan mengumpulkan sampah sebelum hanyut ke hilir atau laut.

Tujuannya agar sampah plastik dan limbah rumah tangga tidak mencemari laut dan ekosistem perairan.

Koordinator Operasional NTTI, Ishella Ajeng Siage-Bullet, mengatakan fokus utama NTTI adalah mencegah sampah plastik agar tidak mencemari laut Manado, mengingat wilayah Sulawesi Utara berada tepat di tengah kawasan segitiga terumbu karang yang sering dijuluki sebagai jantung segitiga terumbu karang.

“Bernama No Trash Triangle Initiative karena fokus pencegahan sampah agar tidak mencemari kawasan segitiga terumbu karang tersebut,” ujar Ishella, Senin (12/10/2026).

Ishella bilang, program pemasangan pembatas sampah di sungai dimulai tahun 2024 dengan pemasangan di 20 titik di Kota Manado.

“Titik aktif saat ini ada 15. Ada beberapa yang dicabut karena kurang memadai atau akses berubah, sehingga saat ini terdapat 15 titik aktif yang beroperasi,” ungkapnya.

NTTI mengangkut semua sampah anorganik, bukan hanya plastik, yang tidak seharusnya berada di lingkungan sungai.

Dijelaskan Ishella, saat cuaca kering, sungai kecil biasanya menghasilkan hingga 7–8 karung per titik.

Titik terbesar di Jembatan Miangas yang memiliki 20 modul, mampu mengangkut 17–18 karung.

Saat musim penghujan, seperti tahun 2025 di Jembatan Miangas, pernah tercatat pengangkutan sampah anorganik mencapai 2 ton dalam waktu 1 minggu.

Dijelaskan Ishella, sampah plastik yang terjaring barrier dibawa ke stasiun pemilahan kami yaitu Ocean Plastic Sorting Station (OPSS). Dari sana, sampah dipisahkan menurut jenisnya, lalu dipres.

Setelah itu, lanjutnya, sampah dikirim ke perusahaan daur ulang atau ke pengolahan bersama (co-processing) untuk menjadi bahan bakar alternatif perusahaan semen.

“Semua sampah plastik yang kami kirim ke perusahaan daur ulang menjadi produk baru, misalnya benang poliyester, pelet plastik atau barang-barang plastik lainnya,” kata Ishella.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan