oleh

Tak Diberi ‘Tola-tola’ Kysly Habisi Adi

Tersangka Kysly

METRO, Airmadidi – Lelaki KK alias Kysly (23) warga Desa Mapanget, Kecamatan Talawaan terpaksa harus meringkuk di balik jeruji besi tahanan polisi, Rabu (24/10/2018). Pasalnya lelaki tersebut tega menganiaya Adi Slamet (63), seorang pemilik warung warga Desa Mapanget Jaga IV Kecamatan Talawaan hingga meregang nyawa, hanya lantaran tak memberikan tola-tola alias makanan untuk minum minuman keras.

Peristiwa naas itu berawal pada Minggu (21/10/2018), dinihari sekitar pukul 01.00 Wita ketika pelaku Kysly datang ke warung korban. Ketika itu pelaku langsung mendobrak pintu dan merusak lemari tempat jualan korban sambil berteriak-teriak.
Ulah pelaku berlanjut pada Senin (22/10/2018) sekitar pukul 23.00 Wita. Kali ini pelaku dalam keadaan mabuk kembali berulah, mendatangi warung korban.

Pelaku bersama seorang temannya membawa parang meminta ‘tola-tola’. Korban yang ketakutan kemudian lari lewat pintu belakang. Sayangnya, langka korban diketahui pelaku dan temannya yang mengejarnya.
Korban berhasil dikejar pelaku yang kemudian membacoknya dengan parang. Alhasil korban mengalami luka di kepala sebelah kanan dan jari tangan kanan.

Seorang tetangga bernama Suraji, menerangkan bahwa sewaktu dirinya berada di rumah tiba-tiba anak korban bernama Ayu menelepon mengatakan bahwa ada orang yang membuat keributan di rumahnya.

“Saya keluar, ada dua orang yang menggunakan sepeda motor langsung pergi dari depan rumahnya korban. Saya mendengar ada suara minta tolong rupanya korban sudah mandi darah,” tuturnya. Oleh para tetangga, korban kemudian dilarikan ke RSUD Prof Kandou Manado. Sayangnya dalam perawatan, korban meregang nyawa.

Ketika dikonfirmasi Kapolres Minut AKPB Alfaris Pattiwael SIK melalui Kapolsek Dimembe AKP Fenti Kawulur membenarkan adanya kejadian ini.
“Korban sudah meninggal di rumah sakit. Sedangkan pelaku sudah kami tangkap,” tegas Kawulur, Kamis (25/10/2018).
Sementara itu, pelaku Kysly mengaku menganiaya korban karena tidak diberi ‘tola-tola’.

 

Penulis: Agust Randang

Komentar