oleh

Iven Nasional dan Internasional Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Sulut

METRO, Manado- Ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan III 2019 tumbuh 5,20 persen (y-on-y). Lapangan usaha jasa lainnya memberikan kontribusi tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 20,66 persen.

“Ini disebabkan oleh peningkatan jumlah wisatawan baik nusantara maupun mancanegara, didukung pula dengan adanya perhelatan event berskala nasional dan internasional di Sulawesi Utara yang jatuh pada triwulan ini,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, Ateng Hartono, Selasa (5/11) kemarin.

Dijelaskan Ateng, beberapa iven nasional dan internasional yang digelar di Sulawesi Utara yaitu Manado Fiesta, TIFF, Festival Pesona Sangihe, Teluk Amurang, Bitung Musik Festival, Bitung Tuna Festival hingga pemecahan rekor dunia selam dan beberapa iven lainnya berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan lapangan usaha jasa lainnya. “Terutama dari jasa hiburan. Bahkan berdasarkan survei BPS, pendapatan usaha untuk taman rekreasi juga meningkat sekitar 30,02 persen. Ini yang mendongkrak jasa hiburan,” ungkap Ateng.

Lapangan usaha yang juga mengalami pertumbuhan cukup tinggi, menurut Ateng adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial lainnya. Meningkatnya realisasi anggaran fungsi kesehatan, terutama dari pendapatan APBN dan peningkatan pendapatan jasa kesehatan dari swasta merupakan dua faktor yang mendorong pertumbuhan di jasa kesehatan.

“Pertumbuhan tertinggi lainnya dari lapangan usaha pengadaan listrik, gas dan produksi es. Ini terutama dipengaruhi oleh realisasi penjualan tenaga listrik dan pembangkit listrik di Sulawesi Utara yang mengalami peningkatan,” jelas Ateng.

Dari data yang diperoleh koran ini, diketahui bahwa struktur PDRB Sulawesi Utara menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2019 belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Pertanian, perdagangan, konstruksi dan transportasi merupakan lapangan usaha yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulut. “Ada tiga lapangan usaha yang terkontraksi atau mengalami pertumbuhan negatif, yaitu industri pengolahan, administrasi pemerintahan dan pengadaan air,” tukas Ateng.(71)