Liando: Polarisasi Pemilu Ganggu Wawasan Kebangsaan

Politik71 Dilihat

METRO, Manado- Kekinian, kondisi Indonesia makin memprihatinkan.

Kebebasan individu makin tidak terkontrol.

Bebas melakukan tindakan apa saja termasuk menghasut, mengadudomba, merampok, merampas dan mencelakakan orang lain.

Hal itu disampaikan Dosen FISIP Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Ferry Daud Liando, ketika memberikan materi pembekalan tentang Wawasan Kebangsaan di Kantor DPRD Sulut, Jumat (2/12/ 2022).

Menurut Liando, banyak pihak melakukan tindakan tidak wajar dan tanpa batas. Dan itu kerap berlindung dengan Indonesia sebagai negara demokrasi.

Liando menjelaskan, demokrasi sering disalahpahami bahwa seolah-olah setiap warga negara berhak melakukan apa saja.

“Banyak yang salah kaprah soal HAM. HAM bukan berarti setiap warga negara bebas berbuat apa saja termasuk tindakan kejahatan,” tegasnya.

Dikatakan, pilihan masyarakat yang berbeda satu sama lain dalam pemilu kerap melahirkan polarisasi.

Dikatakan Liando, polarisasi harusnya hal yang wajar.

Namun sebagian elit kerap memanfaatkan itu saling mengintimidasi dan mengadu domba. Masing-masing sering melemparkan rasa sentimen, kebencian dan permusuhan.

Lanjut Liando, beberapa penyebab antara lain karena bangsa makin krisis keteladanan.

“Masyarakat makin terbelenggu dengan kemiskinan dan buruknya pelayanan publik, namun para wakil mereka yang dipilih menduduki jabatan-jabatan politik tidak memenuhi janji ketika hendak merebut hati rakyat saat kampanye,” katanya.

Ia menuturkan, sebagian aktor politik yang harusnya menjadi teladan, banyak justru mempertontonkan kekayaan.

Dan bahkan ada dugaan sebagian atas hasil tindakan yang menyimpang.

“Ketika hendak merebut kekuasaan saat pemilu, sebagian calon berlomba-lomba memenangi dengan cara-cara yang tidak wajar. Perilaku para aktor politik itu mewabah pada sebagian masyarakat,” bebernya.

Faktor lainnya, terang Liando, disebabkan perkembangan teknologi yang makin vulgar tanpa kontrol dan penegakkan hukum yang kerap tidak melahirkan efek jerah.

Liando menambahkan, salah satu cara mencegah adalah penguatan wawasan kebangsaan bagi setiap warga negara.

Sebab, wawasan kebangsaan adalah pengetahun tentang komitmen bagaimana menjaga keutuhan bangsa, bagaimana mencapainya dan apa yang menjadi kewajiban bagi setiap warga negara.

“Wawasan kebangsaan adalah semangat menjaga dan memelihara keutuhan bangsa,” tandasnya.(ivo/kg)

Komentar