PAHLAWAN bukan hanya tentang seseorang yang gugur di medan perang memperjuangkan kemerdekaan.
Sosok pahlawan merujuk kepada individu yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam memperjuangkan hak-hak orang lain.
Saat ini sosok pahlawan bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang rela berkorban tenaga, waktu, bahkan materi demi kebahagiaan orang lain.
Salah satu sosok pahlawan dapat dijumpai dalam diri Erna Victoria Noli. Perempuan, yang menghabiskan hari-harinya mengurusi anak-anak penyandang disabilitas.
Sudah sekitar 7 tahun perempuan paruh baya ini mengurus anak-anak penyandang disabilitas berkebutuhan khusus, di Panti Sosial Disabilitas Victoria, yang ada di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Di Panti ini, Erna dan suaminya mengurus 22 anak disabilitas dari rentang usia 6 hingga 24 tahun.
Setiap hari Erna bertanggung jawab menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan anak-anak panti. Mulai dari sandang, pangan, bahkan pendidikan.
“Saya mulai di tahun 2018. Waktu itu panti ini belum ada. Saya mengurus 3 anak disabilitas di rumah yang kami kontrak,” ungkapnya.
Dengan gaji yang tidak seberapa, Erna harus pintar-pintar mengatur keuangan supaya bisa mencukupi kebutuhan untuk keluarga dan 3 anak disabilitas yang diasuhnya.
Lama-kelamaan Erna mengaku kewalahan, karena kondisi ekonomi saat itu pun cukup sulit.
Kondisi ini membuat Erna memutuskan untuk membentuk sebuah lembaga supaya bisa mengurus anak-anak disabilitas dengan maksimal.
Dengan modal yang tak seberapa, Erna mengontrak sebuah rumah yang lokasinya tak jauh dari lokasi panti sekarang. Masalah belum selesai sampai disitu. Erna masih harus putar otak untuk kebutuhan sehari-hari anak-anak panti.
Mau tidak mau Erna terpaksa menjual mobil pribadi kesayangannya.
“Saya waktu itu cuma modal iman saja, kalau biaya memang tidak ada. Suami sempat tidak setuju dengan rencana ini, karena dia tahu waktu itu kita tidak punya apa-apa,” kata Erna, sembari mengenang masa-masa awalnya membentuk panti.
Uang hasil penjualan mobil, digunakan Erna untuk membeli barang-barang kebutuhan anak-anak panti seperti tempat tidur, selimut, barang-barang keperluan dapur. Sedangkan untuk makan, mengandalkan gajinya sebagai tenaga pengajar di SLB Bartemeus.
“Untuk makan kita juga ambil hasil kebun ubi, talas, dan sayuran. Lauknya hasil laut dari suami, karena kita juga punya perahu. Saya percaya semua Tuhan sediakan,” jelasnya.
Sekitar dua tahun berjalan, Panti Disabilitas Victoria, kondisi pandemi yang melanda di awal 2020 kembali membuat Erna harus putar otak. Ia memutuskan berjualan ikan hasil tangkapan suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari anak-anak panti.
“Waktu itu begitu sulit karena semua serba terbatas karena pandemi. Tapi kami berhasil melewatinya karena kemurahan Tuhan,” ungkapnya.
Kini bangunan Panti Asuhan Victoria telah berdiri di tanah milik sendiri. Berkat penggalangan dana yang dilakukan anak-anak panti melalui media sosial.
“Anak-anak berinisiatif menggalang dana melalui Medsos. Mereka bikin campaign tentang panti. Donaturnya kurang lebih 6 ribu, kebanyakan orang luar daerah. Hasil penggalangan dana kami beli tanah dan membangun panti ini. Bagi saya ini seperti mimpi,” kata Erna, penuh haru.
Kini Panti Asuhan Victoria telah dihuni 22 orang anak penyandang disabilitas. Rata-rata dari mereka bersekolah. Beberapa anak bahkan telah lulus perguruan tinggi dan menyandang status sarjana. Dua diantaranya kini membantu Erna mengajar di SLB Bartemeus.
Erna kini berencana membangun sebuah sekolah agar lebih banyak anak penyandang disabilitas yang bisa mendapatkan pendidikan yang inklusif.
“Kalau Tuhan berkehendak, tahun depan mungkin sudah ada sekolahnya. Tentu harapannya supaya bisa jadi berkat bagi banyak orang,” katanya.(ian)






