Potensi Karhutla Meningkat Sepanjang Musim Kemarau, Bolmut-Mitra Paling Berisiko

KORANMETRO.COM- Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dan kering karena dampak El Nino dalam fase kuat.

Kombinasi musim kemarau dan El Nino dapat memicu bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah.

Bacaan Lainnya

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Sulawesi Utara, Aris Yunatas, mengatakan El Nino musim kemarau umumnya menyebabkan penurunan curah hujan, kemarau lebih panjang, kekeringan meluas, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Dampaknya perlu kita antisipasi bersama, khususnya Pemerintah daerah (Pemda, red) dan masyarakat, terkait dengan dampak bencana Karhutla,” ungkap Aris.

Ia mengatakan, risiko Karhutla di Sulut semakin besar ketika musim kemarau mencapai puncaknya pada bulan Juli, Agustus, September 2026.

Dijelaskan Aris, wilayah-wilayah dengan risiko Karhutla tinggi yaitu Bolaang Mongondow (Bolmong), Bolmong Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, dan Bitung.

“Potensi kebakaran hutannya cukup besar. Artinya daerah-daerah yang sudah lama tidak hujan, daerah-daerah yang memang sering terjadi kebakaran hutan dan lahan,” jelas Aris.

Menurutnya, Pemda bersama stakeholder terkait harus mempersiapkan diri menghadapi bencana Karhutla di musim kemarau dan El Nino.

“Ada beberapa metode yang dapat dilakukan sebagai antisipasi. Misalnya OMC atau operasi modifikasi cuaca untuk mencegah Karhutla. OMC itu dilaksanakan sebelum dan sesudah musim kemarau. Ini adalah salah satu alternatif menghadapi musim kemarau yang sekarang digalakkan BMKG,” kata Aris.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan