KORANMETRO.COM- Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Sulawesi Utara (Sulut) 2026 pada segmen pelajar dan mahasiswa menunjukkan gap yang cukup lebar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai indeks inklusi keuangan pelajar Sulut sebesar 92,76 persen, sedangkan literasi keuangan 62,72 persen.
Kepala OJK Sulutgo, Robert Sianipar, mengatakan gap antara literasi dan inklusi keuangan menunjukkan bahwa akses pelajar terhadap produk keuangan jauh lebih tinggi daripada pemahaman mereka.
“Kita melihat ada kesenjangan yang menjadi perhatian bersama, karena memiliki rekening saja tidak cukup, tetapi memahami dan bertanggung jawab merupakan kunci kesuksesan dan kesejahteraan,” ujar Robert, saat menyampaikan sambutan pada puncak Hari Indonesia Menabung Sulut 2026, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, akses pelajar dan mahasiswa terhadap produk keuangan sudah sangat tinggi, namun pemahaman untuk mengelolanya secara bijak masih perlu ditingkatkan.
Robert bilang, akses pelajar terhadap layanan keuangan sudah tinggi, namun masih perlu terus diimbangi dengan peningkatan pemahaman dan kemampuan dalam menggunakan produk dan layanan keuangan secara bijak.
“Masih banyak masyarakat kita yang sudah menggunakan layanan jasa keuangan, namun belum sepenuhnya memahami manfaat dan risikonya,” ungkapnya.
Kata Robert, pemerintah sudah menetapkan Hari Indonesia Menabung 20 Agustus, sebagai sebuah gerakan komitmen untuk menanamkan budaya menabung sejak dini.
“Peningkatan inklusi dan literasi keuangan telah ditetapkan sebagai salah satu pilar utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kita memiliki target yang jelas dan terukur untuk mencapai tingkat inklusi keuangan nasional 91% pada akhir tahun 2025 dan 98% pada tahun 2045,” katanya.(ian)





