oleh

Halalbihalal, Tradisi yang Jadi Sejarah Sejak Jaman Presiden Soekarno

Pimpinan dan pengurus Masjid Baitul Ilmi Desa Sea

METRO- Biasanya setelah Hari Raya Idul Fitri, umat Islam menyelengarakan acara halalbihalal. Ternyata itu sudah menjadi tradisi sejak era Presiden Soekarno.

Hal ini diungkapkan kembali saat perayaan halalbihalal yang diselenggarakan Badan Takmirul Masjid (BTM) Baitul Ilmi Sea. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu (22/06/2019) di Masjid Baitul Ilmi Desa Sea, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa ini dirangkaikan dengan salat isya berjamaah yang diimami oleh penceramah.

Acara dipandu oleh Subandi Pade, diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran oleh remaja putri Masjid Baitul Ilmi Sea. Kemudian dilanjutkan sambutan Ketua BTM Yanwar Mulyana yang diwakili Hartato Mohamad selaku Sekretaris BTM.

Hartato dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pada prinsipnya BTM sangat mendukung kegiatan tersebut. BTM dan Keimaman menghadirkan penceramah dari Kota Manado, yakni Ustad Dr Hamso Polinto yang membawakan tema “Hikmah Halalbihalal”.

Dia mengawali ceramahnya dengan menguraikan sejarah halalbihalal di Indonesia. Menurutnya, halalbihalal pertama kali dipopulerkan oleh KH Wahab Chasbullah yang menyarankan pada Presiden Ir Sukarno di sekitar tahun 1948 untuk mengundang para tokoh politik saat itu. Kehadiran menghadiri silaturahmi di istana Negara yang diberi nama “halalbihalal”.

Kaum muslimin dan anak-anak Masjid Baitul Ilmi Desa Sea

Lebih lanjut, Halalbihalal menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan. “Barangkali pada saat Hari Raya Idul Fitri kemarin, tidak semua jamaah masjid saling mengunjungi satu dengan lain di rumahnya masing-masing. Lewat kegiatan Halalbihalal di masjid ini menjadi kesempatan para jamaah untuk saling memaafkan,” ujarnya.

Kegiatan halalbihalal dihadiri oleh pengurus BTM, Imam Masjid Baitul Ilmu Ridwan Pombaile SE dan Pegawai Syarah lainnya, Ibu-Ibu Majelis Taklim, Remaja Masjid, serta jamaah masjid yang bermukim di Perumahan Bintang Permai dan Griya Sea Lestari 3.

Selain itu, dalam kegiatan ini dihadiri pula oleh dua orang akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, yakni Dr Hadirman SPd MHum dan Musafar SSos MSos.

Di akhir kegiatan, Hadirman mengaku kagum dengan kegiatan yang dilaksanakan. Dia mengatakan, meskipun masjid ini masih berusia seumur jagung, dan belum lama resmi berdiri, tetapi sudah menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan pendalaman keislaman bagi para jamaahnya. “Ini sangat berdampak positif bagi para jamaah masjid dan warga muslim sekitarnya,” pungkasnya.(*)