oleh

Kepala Dibacok, Berry Beberkan Kronologi Percobaan Pembunuhan Dirinya

METRO- Tiga hari setelah percobaan pembunuhan dan pembacokan yang dialami, Berry Betrandus (42), warga Mapanget di Perkebunan Alason, kabupaten Minahasa Tenggara, akhirnya angkat bicara. Dia menceritakan kronologis peristiwa yang terjadi Minggu (07/02/2021) hingga menyebabkan luka sepanjang 15 cm dan retakan dibagian tengkorak kepalanya akibat benturan benda keras.

Kepada sejumlah awak media, Betrandus menjelaskan latar belakang dari aksi penyerobotan tanah, hingga dirinya menjadi korban percobaan pembunuhan. Padahal, saat ini tanah tersebut sedang berperkara di Pengadilan Tinggi Manado dan tidak boleh melakukan segala aktifitas apapun.

“Sabtu sore sekitar pukul 18.30 Wita, saya mendapat informasi, kalau malam nanti akan ada kosentrasi massa dan alat berat akan masuk ke tanah yang sedang bersengkata antara kami dengan seorang yang bernama Yandri. Awalnya saya tidak mau ke lokasi, karena jumlah massa yang terinformasi akan kesitu sekitar 30 orang,” katanya lewat telepon, Rabu (10/02/2021).

“Tetapi hingga, Minggu (07/02/2021) subuh, sekitar pukul 03.40 Wita masih juga mendapat informasi jika ada konsentrasi massa benar adanya. Karena itu, saya bersama, Sapo teman saya, menuju ke lokasi untuk menegur para pekerja disitu, sebab status tanahnya masih bersengketa dan tidak boleh ada aktifitas apapun. Saat saya tiba dilokasi ada dua sekuriti sedang berjaga. Saya langsung bertanya kepada mereka, apakah tahu kalau tanah tersebut bermasalah?, mereka menjawah hanya mengawal alat berat dan menurut pengakuan mereka itu atas perintah bos. Diskusi kami tidak ada adu mulut,” lanjutnya.

Setelah dialog tanpa adu mulut tersebut, Betrandus mengatakan kalau para pelaku sempat beretika baik dan segera membawa alat berat mereka dan meninggalkan tanah tersebut.

“Karena mereka sudah keluar dari tanah bermasalah itu, saya hendak kembali ke camp. Namun saat menuju camp, secara tiba-tiba puluhan orang langsung datang dengan sajam dan mengepung saya. Ketika sedang bicara saya dihantam dari belakang di bagian kepala dan dipukulkan ke besi, setelah itu mereka memukul saya kedua kalinya dibagian bahu. Tak hanya dipukul, mereka juga menodongkan tombak dibagian perut kemudian ditodongkan parang dibagian pinggang dan belakang, melihat hal itu lalu teman-teman saya datang,” tambahnya.

Soal adanya pernyataan yang menyebutkkan terjadi penembakan kepada salah satu tersangka. Kata Betrandus, hal itu tidak pernah terjadi.

“Bagaimana saya mau mencabut Airsoftgun? Mereka tiba-tiba mengepung saya dan langsung memukul saya dibagian kepala. Saya juga ditodong dari berbagai arah dengan tombak dan parang. Saat ditodong, mereka yang malah menyuruh saya mengelurkan Airsoftgun yang masih tersarung dan berada dipinggang dan langsung diambil mereka. Nah, Bagaimana juga saya mau menembak, karena saya tau Airsoftgun itu dalam keadaan rusak serta tidak ada magasinenya,” kata Berry.

Dia menuturkan, jika dia menggunakan unit (airsoftgun) itu, maka kondisinya akan lebih parah bukan seperti sekarang.

Juga, dia mengatakan heran dengan adanya laporan penembakan, karena peristiwa penganiayaan dirinya dan laporan penembakan itu punya interval waktu yang lama, diketahui saat adanya laporan penembakan, darah yang keluar masih segar.

Atas kejadian itu, dirinya berharap mendapatkan keadilan dan para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya.

“Saya meminta pihak kepolisian untuk menelusuri otak dari kejadian ini. Saya menduga, mereka disuruh oleh seseorang. Sebab sebelum terjadi pembacokan saya berdialog dengan mereka, tidak terjadi adu mulut dan kekerasan. Setelah mereka meninggalkan tanah yang bersengketa itu, mereka kembali dan langsung mengepung serta menganiaya saya. Jadi saya pikir, mereka disuruh oleh seseorang,” tutupnya.(red)

Komentar