KORANMETRO.COM- Ratusan Umat Muhammadiyah menggelar Salat Idulfitri di Lapangan Basket, Kawasan Megamas, Kota Manado Sulawesi Utara (Sulut), pada Jumat (20/3/2026) pagi.
Salat dimulai pukul 07.00 Wita. Rivai Manopo, M.Pd, menjadi Imam dalam salat ini, sedangkan khotbah disampaikan oleh Khatib, Drs. Ramli Makatungkang , M.Hi.
Dalam khotbah, umat diingatkan bahwa Ramadan merupakan arena berlatih menahan diri dari segala macam godaan material yang bisa merusak puasa umat.
“Proses latihan tersebut diwujudkan dalam bentuk larangan terhadap hal-hal yang sebelumnya halal, seperti makan dan minum,” ungkap Ramli.
Katanya, inilah proses menempa diri. Targetnya, bila manusia menahan diri dari hal-hal saja yang halal, mampu apalagi menahan diri dari hal yang haram.
“Ramadan lebih dari sekadar latihan. Ia wahana mendapatkan diri sekaligus saat tumpahan rahmat Allah, rahmat Allah, ampunan Allah atau maghfirah, dan pembebasan dari api neraka, itqun minan nar,” jelas Ramli.
Ia mengatakan, tujuan ibadah puasa adalah takwa, yang merupakan standar paling tinggi tingkat kemuliaan manusia. Kata Ramli, seberapa tinggi derajat mulia manusia tergantung pada seberapa tinggi ketakwaannya.
“Dalam konteks puasa, tentu takwa bisa dicapai dengan sebatas menahan lapar dan dahaga. Ada yang lebih penting yang perlu ditahan, yakni tergantung manusia kepada hal-hal selain Allah, termasuk hawa nafsu,” ujar Ramli.
“Jika tanda capaian tertinggi puasa adalah takwa, tanda-tanda bahwa kita sudah melewati dan mencapai takwa bagi orang-orang yang bertakwa, semakin tinggi kualitas takwa kita, indikasi semakin tinggi pula efektivitas kita berpuasa,” kata Ramli menambahkan.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Utara, H Drs Masrur Mustamat ME, mengungkapkan Idulfitri merupakan hari kemenangan.
“Umat Islam seluruh dunia memperoleh kemenangan, artinya kembali kepada yang fitri,” ujar Masrur.
Menurutnya, penetapan 1 Syawal pada Jumat Legi tanggal 20 Maret 2026, sesuai dengan maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Dan ini secara organisatoris ini diperkuat dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” tutur Masrur.
Terkait perbedaan penetapan 1 Syawal dengan pemerintah, Masrur mengimbau, pada seluruh umat Islam untuk menyikapi secara bijaksana dan secara dewasa, dan tidak menjadikan perbedaan ini sebagai jurang pemisah untuk ukhuah Islamiyah.
“Terjadinya perbedaan penentuan 1 Syawal ini, ini dijadikan momentum kebangkitan untuk kita makin mempererat, mengokohkan persaudaraan kita, ukhuah kita di antara umat Islam sendiri maupun saudara-saudara kita yang lainnya, terutama di bumi Nyiur Melambai ini,” katanya.(ian)






