KORANMETRO.COM- Kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok memicu terjadinya inflasi month-to-month (m-t-m), di Sulawesi Utara (Sulut), pada bulan April 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS Sulut) mencatat Sulut mengalami inflasi 0,96 persen di bulan April 2026, lebih tinggi dari tingkat inflasi bulan Maret 2026 yang sebesar 0,25 persen.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi adalah tomat sebesar 0,43 persen; angkutan udara 0,19 persen; cabai rawit dan minyak goreng masing-masing 0,06 persen.
Sedangkan komoditas yang menahan inflasi yakni daung bawang, emas perhiasan, ikan deho, daging babi, dan buncis.
Kepala BPS Sulut, Watekhi, menjelaskan beberapa fenomena ekonomi yang memengaruhi inflasi selama bulan April 2026 antara lain kenaikan harga tomat, cabai rawit, dan tiket pesawat.
“Kenaikan harga tomat dan cabai rawit disebabkan terbatasnya pasokan dari daerah sentral produksi karena belum memasuki masa panen,” ungkap Watekhi, saat menyampaikan perkembangan indeks harga konsumen, di Kantor BPS Sulut, Senin (4/5/2026).
Watekhi bilang, meningkatnya biaya operasional maskapai akibat kenaikan harga bahan bakar avtur, menjadi pemicu kenaikan tiket pesawat.
“Kenaikan harga minyak goreng disebabkan oleh kenaikan harga di tingkat distributor akibat terbatasnya stok CPO. Selain itu, kenaikan harga plastik mendorong biaya bahan baku kemasan,” ungkapnya.
Menurut Watekhi, daerah di Sulut dengan tingkat inflasi m-t-m terbesar ada di Minahasa Selatan (Minsel) 1,40 persen, dengan tomat sebagai komoditas pendorong inflasi terbesar.
“Sedangkan penahan inflasinya, untuk Minahasa Selatan adalah daging babi, Minahasa Utara adalah ikan cakalang fufu, ikan deho, dan Manado daun bawang, kemudian Kotamobagu emas perhiasan,” kata Watekhi.(ian)






