BMKG Peringatkan Potensi Kekeringan Ekstrem Dampak Musim Kemarau dan El Nino Fase Kuat

KORANMETRO.COM- Musim kemarau di Sulawesi Utara (Sulut) tahun ini diprediksi lebih kering dan panjang dengan durasi mencapai hingga 9 bulan.

Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino dalam fase kuat atau yang popular disebut saat ini Sebagai El Ninogodzilla. El nino sendiri merupakan fenomena iklim global yang terjadi akibat perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis.

Bacaan Lainnya

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat awal musim kemarau tahun ini mulai berlangsung pada bulan Mei-Juni.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Sulawesi Utara, Aris Yunatas, mengungkapkan analisis perbandingan panjang musim kemarau tahun 2009-2010 menjadi acuan prediksi musim kemarau 2026.

“Tahun 2009-2010 wilayah Sulawesi Utara mengalami musim kemarau yang lebih panjang hingga 15 dasarian. Artinya di tahun 2026 wilayah Sulawesi Utara berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang,” ungkap Aris, Senin (7/7/2026).

Dijelaskan Aris, dampak kombinasi musim kemarau dan El Nino dalam fase kuat berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi.

“Kombinasi antara musim kemarau dengan El Nino dalam fase kuat ini perlu kita antisipasi bersama, khususnya Pemerintah daerah (Pemda, red) dan masyarakat, terkait dengan dampak bencana hidrometeorologi kering,” ungkap Aris.

Katanya, dampak bencana hidrometeorologi kering antara lain kekeringan ekstrem, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, serta gagal panen.

“Empat ancaman ini yang perlu kita antisipasi bersama. Pemda bersama stakeholder saya kira harus mempersiapkan diri menghadapi bencana hidrometeorologi kering di musim kemarau dan El Nino,” ucapnya.

BMKG memprediksi El Nino fase kuat akan terjadi pada puncak musim kemarau di bulan Juli hingga Agustus 2026. “Jadi di semester dua. Apalagi sekarang sudah bulan Juli berarti sudah masuk El Nino kuat,” tutur Aris.

Aris bilang, Indonesia pernah beberapa kali mengalami fase El Nino sangat kuat, terakhir tahun 2015-2016, yang menyebabkan kekeringan ekstrem.

Kejadian terbaru pada 2023-2024, katanya, termasuk kategori kuat yang ditandai dengan anomali suhu permukaan laut tinggi di Samudera Pasifik.

“Setiap kejadian tersebut umumnya menyebabkan penurunan curah hujan, kemarau lebih panjang, kekeringan meluas, serta peningkatan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Aris.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan