KORANMETRO.COM- Kepulauan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, tengah menghadapi krisis air layak konsumsi, dampak kemarau ekstrem.
Warga Pulau Bunaken dan beberapa pulau di sekitarnya sedang menghadapi bencana kekeringan dan krisis air bersih.
Sumur-sumur di Pulau Bunaken yang selama ini menjadi sumber utama air tawar, tak bisa lagi mencukupi kebutuhan warga. Pasalnya, semenjak akhir Juli, air di sumur-sumur warga berubah menjadi asin.
Situasi ini sudah terjadi sekitar dua bulan, selama musim kemarau berlangsung.
Menurut pengakuan warga, kondisi air sumur berubah jadi asin, biasanya terjadi ketika hujan tidak turun dalam periode yang lama.
“Kalau dihitung-hitung sudah sekitar 3 bulan tidak turun hujan di sini. Ini berpengaruh ke kualitas air. Biasanya ada air tawar, tapi sekarang rata-rata jadi asin,” ujar Jems, warga Bunaken, Lingkungan 1.
Kata Jems, air sumur biasanya dipakai untuk kebutuhan mandi, dan mencuci. Sedangkan untuk air minum dibeli dari daratan.
“Sekarang air sumur sudah tidak bisa dipakai. Kalau mau dipaksakan pakai untuk cuci nanti alat masak bisa rusak,” celutuk Jems.
Lurah Kelurahan Bunaken, Rolly Carlos, mengungkapkan daerah paling terdampak di lingkungan 1,2,3, dimana merupakan tempat penginapan dan homestay.
“Total lingkungan 1 sampai 3 itu ada hampir 500-an kepala keluarga. Yang terdampak rata-rata bagian resort, homestay. Mereka kan kesulitan untuk menyuplai air bersih khususnya untuk tamu-tamu resort,” jelas Rolly.
Warga Bunaken kini bergantung sepenuhnya dari bantuan air bersih pemerintah yang disuplai dua minggu sekali.
Sejak awal Juli, sudah ribuan liter air bersih dipasok ke Pulau Bunaken menggunakan kapal Pelni.
“Sudah tiga kali kapal bawa bantuan air ke sini. Kita tampung di tong di dermaga. Biasanya paling lambat itu 2 hari sudah habis, dan memang ada beberapa warga yang tidak sempat mengambil,” kata Rolly.(ian)






