KORANMETRO.COM- BMKG memprediksi durasi musim hujan 2026-2027, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), akan berlangsung lebih singkat dari normalnya.
Musim hujan tahun ini diperkirakan akan berlangsung pada periode November 2026 hingga Juli 2027. Mundur kurang lebih 3 dasarian dari biasanya.
Durasi musim hujan 2026-2027 yang lebih pendek, dipengaruhi fenomena El Nino dalam fase kuat yang melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, menyebabkan musim kemarau lebih panjang, dan pola durasi musim hujan berubah.
“Musim hujan kita ini dengan puncak itu cukup pendek. Durasinya antara 3-27 dasarian,” jelas Aris.
Menurutnya, pola musim hujan yang berubah meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
“Jadi, musim hujan kita ini dengan puncak itu cukup pendek, sehingga ini menjadi kekhawatiran kita terkait ancaman bencana hidrometeorologi basah karena curah hujan tinggi yang turun dalam waktu singkat,” ucap Aris.
Katanya, durasi musim hujan terpendek diprediksi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) selama 2 bulan.
“Secara umum musim hujan di Sulut akan berlangsung 7 – 8 bulan. Paling singkat di Bolsel cuma sekitar 2 bulan,” ungkap Aris.
Menurutnya, puncak penghujan Sulawesi Utara, pada bulan Desember 2026 hingga Januari 2027.
Wilayah Bolaang Mongondow Selatan dan Kepulauan Sitaro, akan lebih dahulu mengalami puncak penghujan di Desember 2026, diikuti wilayah-wilayah lain pada Januari 2027.
“Januari ini yang paling besar. Hampir semua wilayah Sulut terkecuali ada 4 daerah yang puncaknya di bulan Mei; itu di Bolaang Mongondow Timur, Minahasa Tenggara, Kota Bitung dan Minahasa Utara,” katanya.(ian)






