oleh

Kisah Patriotisme RW Mongisidi Ditampilkan dalam FSBB 2018

-Manado-67 views

Teatrikal Bote di lapangan Bantik, Malalayang

METRO, Manado- Jiwa patriotisme seorang Robert Wolter (RW) Mongisidi masih terus tertanam dalam jiwa muda-mudi bangsa hingga saat ini. Kisah salah satu pahlawan nasional Indonesia ini ditampilkan lewat aksi teatrikal saat gelaran Festival Seni Budaya Bantik (FSSB) 2018, 5 September 2018 yang juga diperingati sebagai hari gugurnya RW Mongisidi.

Masyarakat yang hadir dalam festival yang digelar di lapangan Bantik Malalayang Manado seperti dibawa kembali ke masa perjuangan Bote (panggilan akrab Robert) yang secara gagah berani mempertahankan kemerdekaan RI.
Aksi saling tembak antara penjajah dan kaum masyarakat menambah keseruan aksi teatrikal ini.

Diceritakan dalam teatrikal ini kisah Bote yang lahir di Malalayang, Sulawesi Utara 14 Februari 1925 dari orang tua Petrus Mongisidi dan Lina Suawa. Dirinya memulai pendidikan pada 1931 di sekolah dasar di Frater Don Bosco di Manado. Bote lalu dididik sebagai guru bahasa jepang pada sebuah sekolah di Tomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, di Minahasa , dan di Luwuk, Sulawesi Tengah, sebelum ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Kemerdekaan
Indonesia diproklamasikan saat Mongisidi berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mongisidi terlibat dalam perjuangan melawan Belanda yang kembali ke Indonesia melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda di Makassar.

Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947. Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Mongisidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949.

Penulis: Reymond Fransisco