oleh

Ini Solusi Sejahterakan Petani Kelapa

-Berita Utama, Ekonomi-113 views

Perani mengolah kelapa menjadi kopra

METRO, Manado – Menyusul anjloknya harga kopra di Sulut,
ada rencana pemerintah akan membuka kembali kran ekspor buah kelapa. Hal ini pun mendapat dukungan dari petani setempat.
“Tentunya kami mendukung jika buah kelapa kembali diekspor,” ujar
Ketua Asosiasi Petani Kelapa (Apeksu) Sulawesi Utara George Umpel.

Dia menjelaskan, petani kelapa sempat mengekspor buah kelapa ke China sekitar dua tahun lalu. Namun, ekspor tersebut terhenti kemudian karena pihaknya mengaku lebih memilih untuk mengamankan suplai buah kelapa untuk diproduksi menjadi kopra oleh pabrik lokal di Sulut.

“Waktu itu memang saya sempat tolak, alasannya lebih membela kebutuhan pabrik di sini. Tetapi sekarang kita mendukung ekspor kelapa butir kalau memang lebih menguntungkan ketimbang kopra,” ungkapnya.

Umpel memperkirakan, produksi kelapa di Bumi Nyiur Melambai mencapai jutaan butir per tahunnya. Selain China, pasar lain yang potensial menjadi tujuan ekspor buah kelapa adalah India.

Seperti diketahui, harga kopra yang menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Sulut kini tengah mengalami tren penurunan yang cukup dalam. Dia menyebut umumnya harga kopra di Sulut dapat dihargai hingga sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram, namun sekarang harganya anjllok menjadi di kisaran Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram.

“Perkiraannya nanti ketika Eropa musim dingin, baru biasanya harga kopra naik,” jelasnya.

Umpel menambahkan, selain membuka ekspor buah kelapa, Pemprop Sulut juga diharapkan serius mengembangkan industri kelapa terpadu. Hal tersebut dilakukan dengan mengembangkan industri produk turunan kelapa selain kopra hitam, sehingga lebih memiliki nilai tambah untuk dijual ke pasar. Namun hingga saat ini, pihaknya mengaku belum melihat tindak lanjut dari pemerintah terkait hal tersebut.

Sementara Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menjelaskan, ketika harga kopra sedang baik, pemerintah menutup kran ekspor agar bahan baku tersedia. Namun dengan merosotnya harga kopra, pihaknya mempertimbangkan untuk membuka kembali kran ekspor kelapa.

“Kran ekspor biji kelapa sempat kita buka, lalu kita tutup supaya industri di sini tidak kekurangan bahan baku. Tapi  namanya regulasi harus lihat perkembangan,” ujarnya.

Dia pun optimis, nilai komoditas unggulan bumi nyiur melambai itu bakal merangkak naik dalam  tiga bulan mendatang, atau sekitar November, mengikuti siklus pasar minyak dunia. Di lain sisi menyebut, selain kopra banyak produk bernilai lainnya yang dapat dihasilkan dari kelapa.

“Pemprov Sulut juga sedang mempersiapkan alat produksi kopra menjadi minyak kelapa langsung dan industri sabut kelapa. Nantinya turunan produk kelapa tidak hanya kopra saja tapi bisa dijadikan produk lainnya,” papar Gubernur.

Penulis Hence Poli

Komentar