oleh

Sakit tak Sembuh, Pria Kalawat Nekat Gantung Diri

Korban setelah diturunkan

METRO, Airmadidi – Nasib tragis dialami lelaki Jefry Theo (54) warga
Desa Kolongan Tetempangan (Koltem), Jaga I Kecamatan Kalawat,
Kabupaten Minahasa Utara. Pria yang berprofesi sebagai tukang ini
nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri Jumat (11/12/2018) siang
sekitar pukul 14.00 Wita di rumahnya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari Polsek Airmadidi, korban pertama kali ditemukan oleh menantunya yaitu lelaki Repdi Agaats (27). Ketika itu korban ditemukan dalam keadaan tergantung dengan seutas tali membelit leher di dalam ruang tengah rumahnya sekitar pukul
sekitar jam 14.15 Wita.

Kontan Repdi kemudian berlari keluar rumah memanggil lelaki Fery
Wurangian (45). Keduanya kemudian berusaha menyelamatkan korban dengan memotong tali tersebut. Selanjutnya korban kemudian diletakkan di sofa, namun ternyata lelaki malang itu sudah tak bernyawa.
Istri korban, perempuan Nini Salindeho (54) kepada polisi mengungkapkan sekitar pukul 10.00 Wita, ketika berada di dalam rumahnya, korban menyuruhnya untuk pergi bekerja ke rumah Sekdes Koltem. Karena tidak menaruh curiga, Nini pun segera bergegas pergi untuk bekerja. Namun sekitar pukul 14.22 Wita, wanita itu diberitahu oleh menantunya, lelaki Repdi bahwa suaminya Jefry Theo ditemukan gantung diri.

Spontan Nini pun pulang dan setibanya di rumah ternyata korban sudah tak bernyawa.Diakui wanita itu, bahwa suaminya memang mengidap penyakit asam lambung sejak tahun 2009. Bahkan menurutnya sekitar bulan Maret 2017, sakitnya kambuh dan dalam keadaan tidak sadar suaminya keluar rumah dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali. Menantunya yaitu lelaki Repdi juga mengakui korban Jefry menderita penyakit asam lambung tinggi sejak lama.

Menerima laporan gantung diri ini, Polsek Airmadidi langsung menuju
Tempat Kejadian Perkara (TKP) dipimpin oleh Kanit Reskrim Ipda Jefry
Deu untuk melaksanakan olah TKP.
Ketika dikonfirmasi, Kapolsek Airmadidi Iptu Hendrik Rantung
mengungkapkan  pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda
kekerasan. “Karena keluarga menolak untuk dilakukan otopsi, kami
membuat Berita Acara Penolakan Otopsi dan rencananya pemakaman korban akan dilaksanakan pada hari Minggu (16/12/2018),” tegas Rantung.(RAR)

Komentar