Diskusi Mayday dan WPFD 2019, AJI: Rebut Kembali Kemerdekaan Pers! 

Anggota AJI Manado dan sejumlah pers mahasiswa foto bersama usai diskusi.

METRO, Manado- Memperingati Hari Buruh (Mayday) yang jatuh pada 1 Mei, dan Hari Kebebasan Pers (World Press Freedom Day), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Manado menggelar diskusi bertajuk “Jurnalis Sejahtera, Pers Bebas”, di Sekretariat AJI Manado, Jumat (3/5/2019).

Ketua Majelis Etik AJI Manado, Yoseph Ikanubun dan Ketua Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Fransiskus Talokon menjadi narasumber sekaligus pemantik diskusi yang dihadiri anggota AJI dan sejumlah pers mahasiswa dari Unsrat dan Unima. Sebagai moderator adalah Fernando Lumowa yang adalah Sekretaris AJI Manado.

Saat memaparkan materi, Yoseph menegaskan bahwa Kemerdekaan Pers bukanlah hadiah dari siapapun termasuk dari pemerintah. Kemerdekaan pers, kata dia, harus direbut kembali mengingat sekarang ini, terbelenggu dengan banyak kepentingan termasuk dari internal perusahaan media.

Baca Juga :  'Gunde' Siap Goyang Karnaval Manado Fiesta

“Kalau di tempat lain, kebebasan pers berhadapan dengan tekanan-tekanan luar. Seperti di Papua, jurnalis tidak sebebas di Sulut. Tapi justru yang menjadi ancaman kebebasan pers adalah perusahaan media karena berhadapan dengan kontrak pencitraan Pemerintah Daerah, dan lain sebagainya,” kata Yoseph.

Ia juga meminta, kemerdekaan pers harus direbut, jangan sampai kemerdekaan pers ditunggangi penumpang gelap. Seperti media dan jurnalis abal-abal.

“Bagaimana cara merebut kebebasan per situ? Yaitu dengan menjalankan profesi jurnalis sesuai kode etik, aturan dan berlaku professional,” tambah mantan Ketua AJI Manado dua periode itu.

Baca Juga :  Wowor Desak Reklamasi Pantai Malalayang Dihentikan

Materi lain yang disampaikan Yoseph, di antaranya peran pers dalam HAM, batasan kebebasan bagi pers, dan Indeks Kebebasan Pers serta lainnya.

Sedangkan Ketua SPLM, Fransiskus Talokon memaparkan kesejahteraan pers yang harus diperjuangkan. Yakni dengan berserikat.

“Jurnalis jangan takut berserikat. Kita harus bersatu melawan ketidakadilan bagi jurnalis, salah satunya soal kesejahteraan yang jauh dari profesi ini. Jangan sampai (perusahaan) media sejahtera, jurnalis yang merana,” tegas Fransiskus.

Koordinator Bidang Organisasi AJI Manado juga mendukung usulan dan masukan dari perserta diskusi terkait survei dan kajian upah yang layak untuk jurnalis.

Baca Juga :  Stasi Teresa GPI Rayakan Pesta Pelindung Penuh Kebersamaan

“Sampai sekarang belum pernah ada kajian ataupun survey soal upah layak bagi jurnalis. Ini akan kita perjuangkan,” tambah dia.

Terkait kegiatan ini, Ketua AJI Manado, Yinthze Lynvia Gunde menyatakan dukungan kepada para jurnalis untuk membentuk serikat pekerja pers di media masing-masing.

“Ayo kita berserikat untuk memperjuangkan hak-hak kita sebagai jurnalis. Baik dalam melakukan kerja jurnalistik, tapi juga soal kesejahteraan. Karena jurnalis sejahtera, pers bebas dalam melaksanakan tugasnya,” tambah dia. (YSL)

 

Bagikan sekarang...

Berita Terbaru