oleh

Hikam Hulwanullah, Pemuda 22 Tahun Asal Manado Yang Sarat Prestasi

METRO, Manado- Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) khususnya Manado, mungkin belum banyak mengenal dengan sosok pemuda yang bernama Hikam Hulwanullah.

Hal itu dikarenakan pemuda kelahiran Kota Bitung 11 Juni 1997 ini usai menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado sempat melanjutkan kuliah di IAIN Manado namun tidak sampai selesai karena memilih melanjutkan studinya di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur, 2016 silam.

Pemuda kelahiran 22 tahun silam ini merupakan salah satu pemuda yang pernah mengharumkan nama Kota Manado dalam berbagai kompetisi seperti menjuarai MTQ, dan menjadi satu-satunya delegasi Pelajar Sulut pada Forum Indonesia Student Leadership Camp 2014 di Jawa Barat.

Selain itu juga, prestasi pemuda keturunan Jami (Jawa – Minahasa) yang lahir dari pasangan M. Zaenul Asyhuri (Jawa Timur) dan Nurdiana Fauziah Toreh (keturunan Jepang-Minahasa ini cukup membanggakan. Cucu dari K.H. Mustaqim dan Cicit dari Tadashi Yamada ini semasa kuliah terkenal aktif di berbagai organisasi.

Pemuda yang sejak usia 7 bulan ikut orang tuanya pindah tugas di Manado ini diantaranya aktif di sebuah organisasi yang membangun kepekaan literasi, budaya akademik, seorang peneliti lembaga negara, beberapa kali mewakili perguruan tinggi di forum internasional, dan memenangkan berbagai kompetisi debat hukum, memiliki pengalaman melakukan magang di beberapa agensi pemerintah dalam negeri.

Pendidikan S1 Hukum Tata Negara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang ditempuhnya diselesaikan dalam waktu kurang lebih tiga setengah tahun. Sewaktu masih kuliah, pemuda yang akrab dipanggil bang Hikam ini aktif di berbagai forum, organisasi, dan kompetisi di tingkat nasional maupun Internasional seperti menjadi Presiden Mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al Aly, menginisiasi berdirinya Forum Komunikasi dan Diskusi Mahasiswa Intelektual UIN Malang, menjadi Inisiator Law Debate Community (Komunitas riset hukum debat konstitusi yang menyumbangsihkan banyak prestasi bagi perguruan tinggi populer di Malang itu), dan masih banyak lagi.

“Belasan kali saya pernah mengikuti debat hukum mewakili Universitas dan beberapa kali masuk babak final serta menjuarai ajang bergengsi mahasiswa hukum tingkat nasional,” ujar Hikam, Kamis (4/6/2020).

Hikam yang sering kali menjadi asisten dosen ini juga aktif dalam dunia kepenulisan seperti menjadi jurnalis dan menjuarai beberapa kompetisi essay selama berkuliah, bahkan Pada tahun 2017 ketika masih menyandang status mahasiswa baru dia diundang untuk mempresentasikan essaynya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia membahas polemik perkotaan dengan judul “TUKIRAN (Tukang Parkiran) Nodai Prestasi Kota Malang” yang kemudian tulisannya menjadi salah satu rekomendasi gagasan dan evaluasi pada Forum APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia).

Tidak berhenti sampai disitu, anak muda ini juga pernah mendapatkan penghargaan Beasiswa Asian Enlightening Scholarship Japan oleh ILeAD UI 2017, serta diundang untuk mempresentasikan Paper Ilmiah pada ajang ASEAN Islamic Student Summit Malaysia 2017, dan AFSEC Integrative Study Exchange Turkey 2017, terakhir sempat menjadi delegasi Indonesia pada IIYLS Model OIC Youth 2019.

“Teman-teman pernah menjuluki saya sebagai anak emas Prof. Haris (Sapaan hangat rektor UIN Malang) karena kebanggaan beliau terhadap prestasi saya yang membawa harum nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,” kata Hikam

Niat Hikam untuk berkontribusi secara nyata pada masyarakat membawanya bergabung dengan beberapa organisasi mulai dari eselon tingkat Rayon seperti PMII dan di tingkat nasional seperti Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII). Di organisasi tersebut Hikam menjadi bagian penting dengan diberikan amanah menjadi Kepala Departemen Hubungan Luar Negeri pada Reshuffle kepengurusan ke IV.

Diakhir perkuliahannya pada Desember 2019 kemarin, dia berhasil mempertahankan skripsi berjudul “Adikara Constitutional Complaint pada Mahkamah Konstitusi (Disparitas Dimensi Judicial Restraint dan Judicial Activism)” skripsi dengan tebal 320 halaman ini berhasil mengantarkan Hikam sebagai Lulusan Terbaik pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Malang, sekaligus Lulusan Berprestasi Non-Akademik, inilah salah satu hal yang membuat dia diterima pada Program Master of Law Monash University Australia belum lama ini

Hikam juga tergolong pemuda yang aktif diundang menjadi pembicara di berbagai forum nasional membahas polemik-polemik hukum, toleransi keagamaan dan kemahasiswaan seperti pada forum diskusi Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Manado, dan terakhir diundang menjadi pembicara pada webinar nasional Prodi Ilmu Hukum Universitas Panca Budi Medan bersama peneliti dari perguruan tinggi lain bertajuk “Pro-Kontra UU Covid-19 (Perppu No. 1 Tahun 2019).

Didalam setiap forum, Putra daerah kebanggaan Sulawesi Utara ini selalu berhasil mencuri perhatian dengan argumentasi, cara pandang dan sistematika penyampaian yang menarik, hal ini dibekali dari kebiasaannya dalam menelaah dan menganalisis mosi debat hukum, tak heran sejumlah Peneliti dan Dosen Hukum senior yang pernah se-Forum dengannya mengapresiasi bakat anak muda ini.

Namun meski sarat prestasi tidak lantas membuat dia menjadi sombong. Dibesarkan dari keluarga sederhana yang mengutamakan agama dan pendidikan, cara pandang yang visioner, tegas serta kerendahan hatinya membuat banyak orang kagum padanya.

Saat ini ia tengah sibuk menyempurnakan tulisannya untuk diterbitkan menjadi buku yang membahas tentang Hak Konstitusional dan perlindungan paripurna melalui mekanisme Constitutional Complaint.

Sekalipun dia belum mendapatkan bantuan beasiswa untuk studi pasca sarjananya di Australia akibat Covid yang menyebabkan tertundanya seleksi dimana-mana, Hikam tetap optimis bisa melanjutkan studinya berbekal tekad yang kuat untuk berkontribusi bagi bangsa dan negaranya kelak.(*)

Terkait