oleh

Pemerintah Serius Majukan Sektor Pariwisata

Protokol CHSE wajib di semua lokasi wisata

METRO, Bitung- Pemkot Bitung menggelar tatap muka dengan pelaku usaha pariwisata di daerah ini. Pertemuan itu membahas dua hal penting, yakni penerapan protokol CHSE di seluruh tempat atau lokasi wisata, serta komitmen Pemkot Bitung dalam memajukan sektor dimaksud.

Tatap muka tersebut berlangsung Selasa (13/04) kemarin di Ruang SH Sarundajang, Kantor Walikota Bitung. Pelaku usaha yang diundang baru dibatasi untuk pengelola resort, hotel dan restoran di daerah ini. Sementara untuk bidang usaha yang lain, termasuk pengelola cottage di wilayah Batuputih, akan dijadwalkan kemudian.

Pertemuan ini diawali dengan penjelasan protokol CHSE atau cleanliness (kebersihan), healthy (kesehatan), safety (keselamatan) serta environment sustainability (kelestarian lingkungan). Penjelasan itu disampaikan oleh Pingkan Kapoh selaku Kepala Dinas Pariwisata Pemkot Bitung. Dikatakannya, sesuai ketentuan yang dirilis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, protokol dimaksud wajib diterapkan seluruh pelaku usaha pariwisata.

Walikota Maurits Mantiri yang memimpin pertemuan itu menggali lebih dalam perihal protokol dimaksud. Menurut dia, penerapan protokol CHSE sejalan dengan komitmen Pemkot Bitung dalam mendukung eksistensi usaha pariwisata.

“Untuk yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan kami sudah menyiapkan strategi. Kami saat ini fokus pada masalah sampah yang banyak ditemukan di laut atau pantai. Langkah kami adalah mengoptimalkan dua kapal pengangkut sampah yang selama ini tidak efektif.

Kami sudah inventarisir masalah yang menghambat dan sudah ada solusinya,” terang dia.
Permasalahan sampah ini lanjut Walikota, jadi perhatian serius karena berhubungan dengan upaya Pemkot Bitung mencitrakan diri sebagai daerah yang bersih, rapi dan indah. Karena itu, ia meminta para pelaku usaha pariwisata tidak kuatir dengan hal itu.

Walikota lalu memaparkan langkah terkait aspek kesehatan dan keselamatan dalam usaha pariwisata. Hal tersebut kata dia, tentu berkaitan erat dengan masa pandemi Covid-19 yang hingga sekarang masih berlangsung.

“Untuk hal ini langkah utama kami adalah mewajibkan vaksinasi Covid-19 bagi seluruh pelaku usaha pariwisata. Bukan hanya pemilik atau manajernya, semua karyawan yang bekerja juga akan diharuskan. Tidak boleh tidak, ini program nasional jadi harus dijalankan,” tandasnya.
Maurits langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan terkait pelaksanaan vaksinasi. Dan begitu mendapatkan kabar, ia langsung membeber jadwal kegiatan itu. Untuk tahap awal ada 500 lebih pelaku dan pekerja di usaha pariwisata yang akan divaksin mulai pekan depan.

Di luar upaya-upaya di atas, Maurits melanjutkan dengan komitmen yang akan dijalankan pihaknya. Ia menegaskan bahwa situasi pandemi yang masih berlanjut jadi pertimbangan dalam melahirkan kebijakan di bidang pariwisata. Ia tidak ingin kebijakan yang lahir justru memberatkan para pelaku usaha.

“Terutama yang menyangkut kewajiban pelaku usaha kepada pemerintah, baik itu tax (pajak,red), retribusi dan lain-lain, pasti akan jadi perhatian kami. Kami akan mengupayakan ada semacam insentif bagi usaha pariwisata, namun untuk kepastiannya harus kami kaji dulu.

Kami tidak boleh sembarang karena hal semacam itu harus dikonsultasikan dulu dengan DPRD,” paparnya.

Meski demikian, untuk meringankan beban usaha pariwisata, Pemkot Bitung ia jamin akan membantu. Maurits menyatakan pihaknya akan fokus memberi bantuan pada kegiatan promosi masing-masing pelaku usaha. Pemkot Bitung kata dia, akan memanfaatkan kemitraan dengan media massa untuk membantu kegiatan itu.

“Tapi selain itu kami juga akan menggunakan media yang kami kelola, baik itu Youtube, fanpage (Facebook,red) maupun televisi online. Tempat (usaha) bapak-bapak dan ibu-ibu akan kami buatkan film untuk dipromosikan di semua media yang saya sebutkan tadi. Jadi hitung-hitung ini bisa sedikit meringankan bapak-bapak dan ibu-ibu,” tuturnya.

Selain memberikan pemaparan, dalam kesempatan itu Maurits yang didampingi Wakil Walikota Hengky Honandar juga mendengar usulan dari pelaku usaha. Salah satunya dari Rob Sinke, pemilik sebuah resort yang berlokasi di Pulau Lembeh. Pria asal Belanda itu mengingatkan Pemkot Bitung untuk menyusun strategi yang tepat dan realistis dalam memajukan pariwisata.

“Rencana programnya harus realistis. Itu juga harus dibagi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jangan asal-asalan saja seperti yang dulu. Ini sangat perlu karena kami pelaku usaha membutuhkan kepastian dari upaya pemerintah,” pinta pria bule pemilik Divers Lodge Lembeh tersebut.

Usulan lain datang dari perwakilan Fave Hotel yang hadir di pertemuan itu, Tommy Budiono. Ia mendorong Pemkot Bitung memperkuat pengembangan sumber daya manusia di bidang pariwisata, serta menghadirkan pusat souvenir dan kuliner yang memadai.

“Pengalaman kami ketika merekrut karyawan baru, kami harus menyisihkan waktu lebih banyak untuk membekali mereka tentang kepariwisataan. Jadi semoga ini diperhatikan supaya sumber daya manusia yang tersedia harus siap pakai. Begitu juga untuk pusat souvenir dan kuliner, kami berharap ada sebuah tempat yang sesuai dan strategis sehingga bisa jadi daya tarik tersendiri,” ujarnya mengusulkan.(69)

Komentar