oleh

SIG Asia ‘Kartu Mati’ di Industri Perikanan Bitung

Berutang miliaran rupiah ke perusahaan lain

METRO, Bitung- PT SIG Asia jadi sorotan sesama perusahaan perikanan di Bitung. Perusahaan ini punya utang miliaran rupiah ke sesama perusahaan yang bergerak di sektor tersebut. Alhasil, kondisi itu diklaim berimbas menyeluruh pada produksi perikanan di daerah ini.

Informasi perihal utang PT SIG Asia dibenarkan oleh Robert Lengkong, Legal Officer PT Bintang Mandiri Bersaudara (BMB), salah satu perusahaan perikanan terbesar di Bitung. Saat dikonfirmasi wartawan pada Minggu (12/09) kemarin, ia menjelaskan persoalan tersebut.

“Iya, informasi itu memang betul. Tapi PT BMB cuma salah pihak yang punya piutang ke PT SIG Asia,” ungkapnya via sambungan ponsel.

Robert mengaku tahu perihal itu karena dirinya dipercaya jadi kuasa hukum para pelaku usaha perikanan di Bitung. Artinya, ia mewakili perusahaan-perusahaan yang meminjamkan uang ke PT SIG Asia.

“Jadi saya bicara ini bukan hanya mengatasnamakan satu perusahaan, tapi ada beberapa yang punya piutang ke PT SIG Asia. Dan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu,” terangnya.

Robert lupa nominal pasti utang yang dimiliki PT SIG Asia. Namun secara total kata dia, jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah.

“Gambaran saja, ada satu perusahaan yang pinjamannya lebih dari Rp 20 miliar. Memang tidak sama semua, ada yang sedikit lebih kecil, dan ada yang cuma ratusan juta,” tukasnya.

Robert menyatakan jika perusahaan-perusahaan yang memberi pinjaman sudah menagih ke PT SIG Asia. Hal itu dilakukan karena mereka membutuhkan dana segar untuk mendukung operasional perusahaan. Para pemberi pinjaman dalam keadaan kepepet karena cash flow mereka terganggu.

“Jadi kalau dibilang menghambat produksi perikanan tidak berlebihan. Kenyataannya memang begitu. Cash flow perusahaan klien saya terganggu sehingga kegiatan produksi terhambat. Nah, ini kan otomatis berdampak pada produksi perikanan secara menyeluruh,” katanya.

Karena itu lanjut dia, saat ini kliennya berharap PT SIG Asia menunjukan itikad baik menyangkut utang tersebut. Pria yang juga Ketua Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Bitung ini meminta ada kejelasan. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa PT SIG Asia tidak akan lari dari tanggung jawab.

Upaya meminta kejelasan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya menurut Robert, informasi yang didapat PT SIG Asia sudah diakuisisi oleh perusahaan lain bernama PT Laut Biru Seafood (LBS). Informasi ini jelas memicu kekuatiran perihal tanggung jawab utang yang dimiliki PT SIG Asia.

“Kami tidak tahu proses itu (akuisisi,red) seperti apa. Tapi fakta yang kami dapatkan papan nama PT SIG Asia sudah diganti dengan PT LBS. Makanya ada kekuatiran jangan sampai situasi ini memanipulasi utang mereka ke klien saya. Ini yang perlu dijelaskan dan kami berharap Pemkot Bitung juga memberikan perhatian. Minimal bisa memediasi agar ada kejelasan,” tuturnya.

Manajemen PT SIG Asia sudah memberi tanggapan perihal sorotan dimaksud. Vallery George selaku direksi tak membantah soal utang perusahaannya. Ia pun menegaskan tetap akan membayar utang tersebut.

“SIG Asia sampai sekarang masih terus berupaya bekerjasama dengan pendana lain. Ini jadi upaya kita untuk take over semua utang-utang yang dimiliki, termasuk ke LBS. Jadi ini hanya masalah waktu saja, tetap akan dibayarkan,” ujarnya.

Vallery juga menanggapi perihal informasi akuisisi perusahaannya oleh PT LBS. Kali ini ia membantah informasi dimaksud.

“Tidak ada akuisisi saham, ini hanya sewa-menyewa. LBS pakai processing dan karyawan SIG biar pabrik bisa beroperasi dan tidak tambah rusak. Sebab sudah setahun ini pabrik tidak beroperasi dan ada kerusakan. Jadi dengan penyewaaan LBS ini nantinya kami bisa menyelesaikan tanggung jawab kami,” jelasnya.

Selain Vallery, Ridwan Mapahena selaku Legal Officer PT SIG Asia juga menyampaikan tanggapan. Ia mengungkapkan hal yang sama dengan Vallery.

“Masih berproses, masih dalam upaya manajemen pak,” jawab pria yang juga salah satu Staf Khusus Walikota Bitung tersebut.(69)

Komentar