KORANMETRO.COM- Tren peralihan pengguna bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis dexlite ke solar subsidi disebut menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU di wilayah Sulawesi Utara (Sulut).
Antrean mulai terjadi tak lama setelah pemerintah menetapkan penyesuaian harga BBM Dexlite dari Rp 23.600, menjadi Rp 26.000 per liter, pada awal Mei 2026 lalu.
Kepala Biro Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Reza Dotulung, mengungkapkan selisih harga solar subsidi dan dexlite yang begitu besar menyebabkan banyak pemilik mobil beralih ke BBM yang lebih murah.
“Kita mencermati sepanjang bulan lalu sejak terjadi kenaikan kenaikan harga Dexlite menyebabkan peningkatan jumlah kendaraan yang mengantre di SPBU. Dahulu kendaraan-kendaraan yang menggunakan Dexlite itu berpindah ke solar subsidi,” ungkap Reza, Senin (13/7/2026).
Selain itu, katanya, pemerintah telah membuka kembali blokir QR Code terhadap kendaraan-kendaraan yang dulu terblokir, sehingga menambah lagi jumlah kendaraan yang mengantre membeli solar.
“Ada juga kendaraan-kendaraan yang lintas provinsi mengantre membeli solar di kita, sehingga terjadi peningkatan antrean,” jelasnya.
Reza bilang, sejak Harga dexlite naik, pihaknya mencatat telah terjadi peningkatan konsumsi solar subsidi dari 13.557 kiloliter (Kl) per bulan menjadi 14.127 kiloliter.
“Dalam catatan kami untuk konsumsi bulan Mei-Juni 2026 sebanyak 14.000 kiloliter, ada kenaikan sekitar 500 kiloliter, melonjak dari konsumsi rata-rata bulanan,” kata Reza.(ian)





