KORANMETRO.COM- Puncak musim kemarau 2026 di Sulawesi Utara, BMKG memprediksi curah hujan akan semakin sedikit.
Hasil monitoring BMKG menunjukkan secara umum di wilayah Sulawesi Utara mengalami hari tanpa hujan (HTH) selama 21-30 hari terjadi di 48 lokasi. Sedangkan wilayah yang mengalami hari tanpa hujan sangat panjang lebih dari 60 hari terjadi di 13 lokasi.
Kepala Stasiun Klimatologi Sulut, Aris Yunatas, mengatakan hari tanpa hujan akan semakin panjang pada puncak musim kemarau bulan Agustus-September 2026, di hampir semua wilayah Sulut.
“Bulan Agustus itu hampir di semua wilayah Sulut kecuali Bolaang Mongondow Selatan. Di sana masih ada hujan walaupun rendah, antara 40-50 mm,” ungkap Aris.
Ia mengatakan, hasil monitoring BMKG bulan September curah hujan hanya berkisar 0,0-20 mm per bulan. Ini berarti sepanjang September tidak akan hujan.
“Bulan September tidak ada hujan sama sekali. Hujannya 0,0 sampai 20 mm. Tapi kalau kondisi lapangan bisa 0, itu artinya tidak ada hujan sama sekali,” jelas Aris.
Katanya, bulan Oktober biasanya masa peralihan, transisi dari musim kemarau ke musim hujan. “Oktober sudah mulai banyak. Artinya ada hujan di sana,” ucap Aris.
Meski begitu, kata Aris, kondisi El Nino terpantau masih kuat hingga bulan Desember, sehingga diprakirakan musim hujan mundur ke Desember-Januari.
“Artinya mundur prediksi kami di bulan Desember-Januari, karena El Nino masih kuat di sana. Tapi ini prediksi. Nanti kita update lagi yang terbaru,” ujar Aris.(ian)





