KORANMETRO.COM- Musim kemarau tahun ini memasuki puncaknya pada bulan Agustus, dan diprediksi berlangsung hingga awal Oktober.
Berbagai dampak puncak musim kemarau dan El Nino, mulai dirasakan warga Kota Manado, Sulawesi Utara, mulai dari kekeringan, bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), hingga krisis air bersih.
Sejak akhir Juli hingga Agustus 2026, sudah ratusan titik Karhutla yang tercatat. Kini warga Manado tengah menghadapi krisis air bersih.
Warga di sejumlah kelurahan berjuang mendapatkan air yang layak.
Kekeringan terpantau di Kelurahan Malalayang Satu Timur, Paniki Dua, Mapanget Barat, dan Bunaken.
Debit air di sumur-sumur warga mulai berkurang. Di beberapa wilayah bahkan ada yang kering sama sekali.
Pemerintah Kota (Pemkot) bersama dinas-instansi berwenang sudah melakukan berbagai upaya guna membantu warga yang terdampak.
Sejak pertengahan Agustus, ribuan liter air bersih sudah disalurkan ke kantong-kantong kekeringan. Truk-truk yang membawa bantuan air bersih diserbu. Warga berebut mendapatkan air bersih untuk kebutuhan air minum dan mencuci.
Kepala BPBD Kota Manado, melalui Sekretaris, Sonne Engka, mengungkapkan bahwa penyaluran air bersih sudah dilakukan sejak pekan lalu.
“Setiap hari kami salurkan sekitar 8000 liter air bersih. Hari ini ada tiga titik kita bawa, salah satunya ke Paniki,” ujar Sonny, Jumat (28/8/2026).
Menurut Sonny, bantuan air bersih akan terus disalurkan selama musim kemarau berlangsung.
“Ketika ada laporan krisis air bersih, maka armada dipastikan datang. Sehingga kami minta warga pro aktif melaporkan kondisi kekeringan ke pemerintah setempat,” kata Sonny.(ian)





