Motor Jarang Dipakai Bukan Berarti Bebas “Pajak” Perawatan, Ini Ancaman Tersembunyinya!

MEMILIKI sepeda motor yang hanya diparkir manis di garasi dan jarang disentuh sering kali dianggap sebagai cara paling ampuh untuk menghemat biaya perawatan.

Banyak pengendara berpatokan pada prinsip sederhana: jarak tempuh rendah berarti komponen masih awet.
Namun, anggapan ini justru menjadi bumerang paling umum yang menjebak para pemilik kendaraan harian maupun musiman—seperti mereka yang hanya menggunakan motor saat akhir pekan atau liburan panjang.

Bacaan Lainnya

Faktanya, kendaraan yang “menganggur” di garasi justru menyimpan risiko kerusakan senyap (silent damage) yang kerap luput dari perhatian.

Technical Service Department Head PT Daya Adicipta Wisesa (DAW), Ridwan Marpela, mengungkapkan bahwa patokan jarak tempuh (kilometer) bukanlah satu-satunya tolok ukur kesehatan mesin sepeda motor. Faktor waktu memegang peranan krusial yang sering diabaikan.

“Walaupun sepeda motor jarang digunakan, beberapa komponen tetap mengalami perubahan kondisi seiring waktu. Karena itu, perawatan berkala tetap penting dilakukan, bukan hanya berdasarkan jarak tempuh, tetapi juga mengikuti periode perawatan yang dianjurkan,” tegas Ridwan.

Ketika motor diam terlalu lama, proses kimiawi dan fisis pada beberapa komponen esensial tetap berjalan.

Berikut adalah tiga “korban utama” dari motor yang terlalu lama dibiarkan terparkir.

Oli Mesin Mengalami Penurunan Kualitas: Banyak pemilik menunda penggantian oli karena merasa motor baru berjalan beberapa kilometer dalam sebulan. Padahal, seiring berjalannya waktu, sifat kimia pelumas di dalam mesin dapat mengalami oksidasi, terkontaminasi udara lembap, atau mengendap, sehingga kemampuannya melindugi komponen mesin drastis menurun.

“Jika sudah memasuki periode penggantian oli sesuai rekomendasi, sebaiknya tetap dilakukan meskipun motor tidak terlalu sering digunakan,” ungkap Ridwan.

Aki “Tidur” dan Kelistrikan Drop: Sistem kelistrikan adalah komponen yang paling rentan pada motor jarang pakai. Aki membutuhkan siklus pengisian daya secara berkala melalui aktivitas berkendara.

Jika dibiarkan berbulan-bulan tanpa dinyalakan, aki bisa mengalami sulfation (pengerasan sel) yang berujung pada kematian total aki.

Tekanan dan Fisik Ban Menyusut: Titik tumpu beban yang sama secara terus-menerus pada satu sisi ban, ditambah penurunan tekanan angin akibat pori-pori karet yang melepas udara secara perlahan, membuat ban berisiko mengalami deformasi atau retak-retak halus.

Bagi pemilik yang jarang menggunakan kendaraannya, disarankan agar tidak langsung menggeber motor di jalan raya sesaat setelah dikeluarkan dari garasi.

Cek Tekanan Dan Kondisi Fisik Ban: Pastikan angin sesuai standar dan tidak ada retakan pada dinding ban.

Uji Fungsi Pengereman: Pastikan kampas dan minyak rem bekerja responsif. Periksa Sistem Kelistrikan: Nyalakan lampu utama, lampu sen, klakson, serta pastikan panel indikator menyala normal tanpa ada kode error.

Panaskan Mesin Sesaat: Biarkan oli bersirkulasi melumasi jeroan mesin sebelum motor mulai dikendarai jarak jauh.

Pada akhirnya, perawatan berkala di bengkel resmi seperti AHASS (Astra Honda Authorized Service Station) bukan sekadar mengganti suku cadang yang rusak, melainkan langkah preventif untuk mendeteksi masalah lebih dini sebelum berkembang menjadi kerusakan parah yang merogoh kocek lebih dalam.

“Motor yang jarang digunakan bukan berarti tidak membutuhkan perhatian. Justru dengan pemeriksaan berkala, pemilik bisa mengetahui lebih awal apabila ada komponen yang perlu diperiksa atau dirawat, sehingga kendaraan tetap dalam kondisi siap digunakan kapan pun,” tutup Ridwan.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan