Minaesa, Kampung Pengrajin Perahu Fiber di Sulut, Diminati Hingga Luar Daerah

Perahu-perahu fiber buatan galangan desa Minaesa Talawaan Bajo.

KORANMETRO.COM- Selain terkenal dengan usaha perikanan, desa-desa di pesisir Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Sulut), juga dikenal sebagai penghasil perahu berbahan fiber.

Salah satu yang memiliki galangan perahu fiber terbanyak, adalah desa Minaesa Talawaan Bajo.

Bacaan Lainnya

Perahu berbahan fiber kini jadi pilihan nelayan karena dinilai lebih kuat dan tahan lama dibandingkan perahu kayu.

Saat ini ada sekitar 11 usaha galangan kapal yang ada di desa Minaesa.

“Awalnya Minaesa ini dikenal dengan galangan perahu kayu. Ketika pelaut-pelaut kita berlayar ke perairan Ambon, mereka melihat di sana tidak ada lagi menggunakan kayu tapi menggunakan fiber. Begitu pulang dari sana, mereka mulai mencoba untuk membuat fiber. Saat ini sudah ada kurang lebih 11 tempat pembuatan fiber,” ungkap Saprin Fana, Hukum Tua Desa Minaesa.

Perahu-perahu fiber jenis long boat hasil karya para tukang desa Minaesa sangat diminati, kualitas dan harganya yang bersaing dan sudah terbukti.

Selain konsumen lokal, perahu-perahu fiber dari Minaesa sudah dikirim ke luar Sulut, seperti Maluku, Ternate, dan Morotai.

Perahu fiber buah tangan tukang perahu Minaesa terkenal karena model dan kualitasnya. Dari segi harga pun cukup terjangkau, dengan kisaran Rp25 juta hingga Rp40 juta. Ukurannya dari 1 ton hingga 2 ton.

Tahap awal pengerjaan perahu fiber dimulai dengan membuat rangka luar dari kayu. Rangka kemudian dilapisi material fiber dan resin sehingga membentuk bodi perahu. Proses pelapisan resin bisa mencapai hingga 3 kali.

Perahu yang sudah terbentuk kemudian di-cat sesuai warna dan motif pesanan konsumen. Proses pengerjaan satu perahu bisa memakan waktu kira-kira 2 minggu.

Salah satu pemilik usaha galangan perahu fiber di Minaesa, Sukiman Baba, mengungkapkan bahwa dirinya mulai membuat perahu fiber sekitar 6 tahun lalu.

Sebelum tahun 2019, pria 40 tahun ini mengerjakan perahu berbahan kayu. Sukiman mengaku, ilmu membuat perahu dipelajarinya secara otodidak dari sang orang tua.

“Sulit sekarang membuat perahu dari kayu. Selain sulit cari bahan, juga kurang laku, sebab konsumen lebih suka perahu fiber karena tahan lama,” jelas Sukiman.

Usaha galangan perahu fiber turut berkontribusi terhadap perekonomian warga desa. Satu galangan kapal bisa mempekerjakan hingga 3 orang tukang.

Omzet yang diraup pun tak sedikit. Untung bersih per bulan bisa mencapai hingga Rp5 jutaan.(ian)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan