oleh

Mapalus Pindah Rumah Kembali Dilakukan Warga Silian

-Minsel & Mitra-277 views

Mapalus pindah rumah dilakukan warga Silian.

 

 

 

 

METRO, Ratahan – Hingga awal tahun 90-an, budaya gotong royong atau mapalus untuk memindahkan rumah yang terbuat dari kayu, sering dilakukan warga di Kabupaten Minahasa Tenggara khususnya di Kecamatan Silian Raya.

Nah, seiring berjalannya waktu, tradisi ini perlahan mulai terkikis bahkan menghilang selama puluhan tahun. Yul Solang, Tokoh Masyarakat Silian Raya mengungkapkan, sejumlah alasan hingga budaya ini sempat menghilang, salah satunya sebagian besar rumah warga sudah permanen atau ada yang lebih memilih untuk menyewa tukang untuk membonhkar rumah yang akan dipindahkan kemudian diangkut dengan kendaraan. “Jaman dulu, masih jarang rumah permanen. Beda dengan sekarang, hampir semua warga, rumahnya sudah permanen, makanya budaya memindahkan rumah sudah jarang dilakukan,” ungkap Yul usai memimpin warga yang tergabung dalam salah satu kerukunan sosial di Silian Raya bergotong royong memindahkan rumah dari Desa Silian Tiga ke Desa Silian Dua, Senin (06/05/2019).

Dikatakan Yul, budaya mapalus memindahkan bangunan rumah, yang dilakukan jaman dulu, prinsipnya untuk saling bantu membantu sesama warga yang tujuannya untuk meringankan biaya pemilik rumah saat hendak memindahkan bangunan rumah. “Dulu dilakukan dengan sukarela,” tukas Yul.
Pantauan METRO, tradisi memindahkan bangunan rumah ini, dilakukan oleh puluhan hingga ratusan orang, tergantung volume rumah yang akan dipindahkan. Sebelum dipindahkan, kayu bangunan rumah diikat agar tidak terlepas, kemudian warga mulai berjejer di bagian sisi luar maupun sisi dalam dan seorang yang dituakan mulai menuntun dengan komandonya, sementara warga lainnya, memegang bambu panjang untuk mengamankan kabel listrik ataupun hal lainnya yang kemungkinan bisa tersangkut badan rumah. “Satu, dua, tiga,” teriak orang yang dipercayakan untuk menuntun.

Dari komando tersebut, warga yang sudah berjejer sambil memegang bambu atau balok yang dikaitkan di badan rumah, bersama-sama mengangkat kemudian perlahan mulai berjalan. “Memang berat, tapi kalau dilakukan banyak orang, pasti terasa ringan,” tukas Herling Legi, salah satu warga yang ikut memindahkan bangunan rumah.(ian)

Komentar