oleh

Satu Tikaman Renggut Nyawa Pemuda Madidir

METRO, Bitung- Kasus pembunuhan kembali terjadi di Bitung. Seorang pemuda 24 tahun bernama Fransiskus Saleleng tewas dengan luka tikaman di dada. Dan seperti biasa, faktor miras jadi pemicu insiden itu.

Pembunuhan terhadap Fransiskus terjadi Kamis (06/05) dini hari sekitar pukul 01.30 WITA. Kejadian itu dia alami di Kelurahan Bitung Barat Satu, Kecamatan Maesa, tepatnya di Kompleks Kusu-kusu. Fransiskus ditikam seorang remaja berinisial KP yang masih berusia 17 tahun.

Informasi dirangkum menyebutkan, terbunuhnya Fransiskus hanya dipicu masalah sepele. Dia dan temannya bernama Denny terlibat adu mulut saat berpapasan dengan KP yang juga bersama temannya. Mereka berpapasan dengan sepeda motor di ruas jalan dekat persekolahan Don Bosco Bitung.

Adu mulut itu jadi panjang karena kedua kubu sudah dalam pengaruh miras. Fransiskus dan Denny baru usai mengonsumsi Cap Tikus di Kelurahan Kasawari, Kecamatan Aertembaga, sementara KP dan teman-temannya juga demikian. Mereka ‘berpesta’ miras di Kompleks Kusu-kusu.

Perselisihan itu sejatinya sempat diredam oleh Denny. Dia berhasil membujuk Fransiskus untuk tidak memperpanjang masalah. Akan tetapi, ketika hendak melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah, Fransiskus melihat ada kenalannya di antara rombongan KP. Alhasil, dia bergabung dengan mereka dan melanjutkan konsumsi miras.

Parahnya, dalam situasi itu Fransiskus memicu masalah baru. Pengaruh alkohol yang makin besar jadi penyebab. Dia kembali terlibat cekcok dengan orang-orang yang ada di situ. Kali ini bahkan lebih gawat. Karena tak bisa lagi mengendalikan diri, dia mencabut pisau dan menikam seorang teman KP bernama Muh Cikal Djama.

Nah, dari situlah KP bertindak. Tak terima dengan perlakuan Fransiskus terhadap temannya, KP mengambil pisau yang ada di situ dan menikam yang bersangkutan. Tikaman tersebut tepat bersarang di dada sebelah kanan Fransiskus dan langsung menunjukan reaksi. Usai itu, ‘pesta’ miras tersebut pun bubar.

Kasat Reskrim Polres Bitung AKP Frelly Sumampow membenarkan kronologi di atas saat dikonfirmasi. Ia pun membeber situasi setelah Fransiskus kena tikaman.

“Korban tidak meninggal di tempat. Setelah kena tikaman dia masih dibonceng temannya menuju ke arah pusat kota. Tapi tepat di depan Kantor Walikota dia merasa pusing dan akhirnya meninggal di situ,” ungkap Frelly.

Denny yang membonceng Fransiskus langsung takut dengan situasi tersebut. Dia meninggalkan pemuda itu untuk mencari bantuan sekaligus melapor ke kantor polisi. Namun sayang, tak berapa lama kemudian Fransiskus sudah meregang nyawa.

Polisi langsung bergerak usai mendapati kejadian itu. Selain mengevakuasi korban, pencarian terhadap pelaku langsung dilakukan. Hasilnya, tak sampai 12 jam setelah peristiwa itu KP sudah tertangkap. Remaja tersebut ditangkap di wilayah Tondano, Kabupaten Minahasa.

“Kami keroyokan mencari jejak pelaku. Tim Resmob dan Tim Tarsius kami kerahkan. Selain itu ada juga back-up dari Polda Sulut yang mengirimkan tim IT mereka. Makanya cuma 12 jam setelah kejadian kasus ini sudah terungkap,” tuturnya.

Sementara, pelaku di hadapan polisi langsung mengakui perbuatan. KP menganggap tindakan Fransiskus sudah kelewatan sehingga dirinya melayangkan tikaman. Meski begitu, dia menampik jika pisau yang dipakai menikam adalah miliknya.

“Saya cuma membalas saja. Tapi saya tidak membawa pisau. Saya cuma pakai pisau yang ada di situ. (Malah) dia yang bawa pisau dari rumah,” tukasnya kepada polisi.

KP menyatakan siap menghadapi hukuman atas perbuatannya. Dia siap dipenjara karena merasa dirinya bersalah. Namun demikian, proses hukum terhadapnya tidak boleh sembarang. Karena masih berstatus anak di mata hukum, polisi harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Salah satunya pemeriksaan terhadap dia harus didampingi petugas dari Balai Pemasyarakatan atau Bapas.(69)

Komentar